Komit, Men! Apa yang terlintas pertama kali dibenakmu kalau denger kata komitmen? Pacaran, pernikahan, atau... wawancara kepanitiaan? wkwk. Bagi yang sering ikut kepanitiaan atau minimal sekedar daftar kepanitiaan (walau ditolak) pasti gak asing dengan kata komitmen. Kira-kira liriknya begini, “Kalau seandainya kamu masuk kepanitiaan ini, seberapa besar kamu akan berkontribusi disini?” “Semisal kita ada rapat nantinya dan kamu ada jadwal lain, apakah kamu mau berkorban demi rapat kepanitiaan ini?” atau, “Dari 1-10, di skala berapa sih kamu berkomitmen terhadap kepanitiaan ini?” dan dengan lantang serta tidak berdosanya si interviewee, karena takut ditolak, ia berkata, “KOK CUMA SAMPE 10 SIH BANG? ABANG GATAU SEBERAPA BESAR KOMITMEN SAYA DEMI KEPANITIAAN INI? ABANG RAGU SAMA SAYA? ABANG MEMPERTANYAKAN CINTA SAYA? ” Enggak. Enggak. Coba kita maknai lagi, hakikat komitmen yang sesungguhnya. Karena seringkali, kita berlomba-lomba untuk membangun komitmen ...
cuma numpang lewat, jangan serius-serius amat.