Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Eps. 06 : bumi masih kalah datar sama ini.

PERINGATAN. Tulisan ini sekedar misuh belaka dengan tujuan murni buat misuh saja. Diharap kebijaksanaan pembaca dengan tidak berkomentar, “kurang bersyukur nih, pasti kurang ibadah!! ” kalo sekarang kamu lagi ngerasain : ·          hidup gini-gini aja ·          kalo udah ngeliat temen-temen lama yang dulu samasama ngegembel dan cupu bareng, trus sekarang, “wah, dia udah berubah, udah jelas tujuan hidupnya, pergaulannya udah luas banget pula, ikut ini itu yang bermanfaat.” seneng ngeliat mereka semakin membaik.disisi lain suka malah sedih ke diri sendiri yang jauh dibawah mereka. ·          ngerasa nyampah ·          punya citacita jadi anak kos tapi ga kesampean ·          pengen keluar malem tanpa perasaan gundah ditelponin terus. ·      ...

Eps. 05 : playing-victim kegemaran kita semua!

Halo, calon jenazah :) Jadi belakangan ini, otakku sejujurnya penuh sama tema dan judul yang pengen aku tulis di blog, namun waktunya selalu aja gak merestui. Minggu-minggu ini full dengan ngerjain tugas kelompok, terus kalo ada waktu luang dikit entah apa aja yang kukerjakan, salah satunya rebahan. Karena, REBAHAN ADALAH KEGIATAN SURGAWI DI ATAS BUMI YANG DUNIAWI.  Bahkan "Edisi Pare" aja aku masih ngutang. Walaupun ngutangnya sama diri sendiri sih, hahaha. Nah, sekarang aku lagi ada waktu sedikit untuk nulis. Jadilah tulisan singkat yang akan kubuat mengangkat salah satu tema yang mungkin masih banyak yang bertanya-tanya ‘aPaaN TucH??’. Dan tema yang akan dan segera aku tulis dibawah adalah tak lain dan tak bukan : PLAYING-VICTIM KEGEMARAN KITA SEMUA!  Waktu bimbingan sama dosbing beberapa minggu yang lalu, beliau dan beberapa teman sempat nyeletuk tentang "Playing-Victim" ketika kami lagi dibacakan hasil dari tes kepribadian kami. Aku yang...

Edisi Pare; eps. 03 : "dari stasiun ke stasiun"

Hal yang paling romantis ketika bepergian dengan kereta sepanjang malam ini : melihat nenek yang mengolesi balsem keatas punggung suaminya yang masuk angin, melihat seorang bapak yang duduk sendiri namun sorot matanya lelah dan sepi, melihat suami istri berdampingan yang anaknya juga terlelap disamping mereka, melihat kakek yang berbincang hangat dengan seorang anak perempuan belia yang baru saja dikenalnya namun obrolannya hangat seperti cucu yang lama tak bersua dengan kakeknya, sepasang muda-mudi yang hampir merebahkan kepala di pundak yang satunya padahal belum jelas status mereka apa, dan yang terakhir, aku yang kedapatan mencintai diriku kala menikmati diriku yang mencintai hal-hal sederhana lalu mengabadikannya. 03.00 (hampir) di Stasiun Solobalapan.

Edisi Pare; eps.02 : "Gambir, Monas, dan Golden Hour."

Selamat datang di Soetta! Btw, tadi ibu-ibu regale minta foto samaku dan minta nomorku. HAHAHA BERASA ORANG PENTING. "Siapa tau nanti kalo ke medan bisa ketemu." Dan... aku juga pas keluar menuju belalai gajah, minta foto balik ke ibunya, sebagai barang bukti kalo udah sampe di soetta ke grup cemara (isinya keluarga inti doang).          "bersama ibu-ibu biskuit regale asal jambi" "Ini ibu angkat waktu dipesawat, hahaha" komentar ibu itu waktu aku hendak mengirimnya ke grup cemara. Wow, gitu aja hatiku anget coy. Selepas itu, aku jalan dan pisah sama ibu itu. Beliau dijemput anaknya. Aku sebelum dijemput sama Nikmah (kawan coolyah yg ikut ke pare juga), hendak menemui Bang Andre (sepupuku yang kerja disoetta) dulu. Anjir, ternyata kayak gini rasanya pergi sendiri. Seneng. Nyari bagasi sendiri, seneng. Walau masih meraba-raba juga, hahaha. Lepas dari ambil bagasi, aku ketemu Bang Andre di depan pintu penjemputan. Ngobrol-ngobrol sama Ban...

Edisi Pare; eps.01 : "(berang)kat"

Sabtu ini, tepatnya tanggal 27 Juli 2019, tepatnya lagi hari ini, aku berangkat seorang diri untuk mengisi liburanku yang biasanya gabut ini ke jakarta. Tujuan sebenarnya aku hendak berkunjung ke kampung inggris. Untuk menuntut ilmu, formalnya. Nonformalnya? Untuk nambah pengalaman dan bersenang-senang, tentunya. Noformalnya lagi? Untuk melupakan. HAHAHA, BASI. Tapi emang demikian adanya, jujur akutu. Aku dapat flight pukul 08.40, tapi harus berangkat dari rumah jauh sebelum itu pastinya. Pagi ini, aku dibangunkan bunda jam 05.45, normal rasaku. Pas untuk ukuran flight yang jam delapanan tadi, tapi disinilah drama kecil dimulai. "Loh, udah jam segini, aduh, kok bisa kesiangan!!" Ayah terkejut kala mendapati dirinya yang terbangun 'kesiangan' tadi. Yah, beginilah orangtua. Kalau bisa setengah hari sebelom flight kita udah disuruh nongkrong depan koper kali ya.. Sebenernya, aku senang-senang aja dikhawatirin sama orangtua. Apalagi, karna ini adalah flight perta...

Eps. 04 : ledak-redam

Ledak Redam terlalu banyak pilihan peluang yang membuka jalan, membuka akal pikiran, ingin kujamah mereka semua ya, ideku sedang penuh semangat masih utuh dan belum luruh tapi, tunggu dulu pilah satu-satu redam sedikit ambisi tak terencanamu ambil kertas atur satu demi satu sesuai mampu dan tak lupa kendalikan ekspektasimu ingat-ingat wahai aku, prioritas dan kapabilitas itu yang nomor satu. -fm

Eps. 03 : bermonolog dengan 18.

bermonolog dengan 18. Selamat Tinggal, 18. 18, tepat dimana aku memulai hidup dengan jiwa yang benar-benar baru gonjang-ganjing pergolakan batin mulai kurasakan. bukan, bukan berarti tahun-tahun sebelumnya aku tak merasa demikian. hanya saja, satu tahun ini benar-benar penuh dengan proses pendamaian dan pembelajaran. Hari ini, hari terakhir dimana usia 18 menduduki jiwaku. Kalau saja usia 18 ini memiliki wujud, pasti sudah habis kuhina kau, menunjukkan betapa kesalnya aku padamu. Namun, kalau saja usia 18 ini memiliki wujud, aku ingin bersimpuh berterima kasih padamu, begitu banyak alur cerita tak enak yang pada akhirnya membuatku tertampar berkali-kali, menyadarkan akal bodohku, dan seolah datang sebagai seorang ibu yang menyuruh anaknya terbangun di mimpi siang bolong. Kalau saja usia 18 memiliki wujud, aku pasti dengan lantang meneriaki kelancanganmu karna telah memporak-porandakan imajinasi yang kubangun dengan kumpulan material berkilau yang mahal namu...

Eps. 02 : meracau

MERACAU v  berbicara tidak keruan (waktu sakit, demam, dan sebagainya); mengigau:  sepanjang sakitnya ia ~ v  mengeluarkan bunyi secara berulang-ulang tanpa mempunyai arti khusus (pada anak usia 3–12 bulan) halo, selamat malam. eh, udah pagi sih ini. oke, selamat pagi. jadi, sesuai judulnya, aku lagi pengen meracau aja. kebetulan timing-nya juga lagi pas. perbatasan malam ke pagi gini kan biasanya pikiran emang lagi kalang-kabutnya. dan biasanya juga lagi rindu-rindunya *eh //gak. kenapa aku bilang meracau? karena sesuai makna yang udah kucari di KBBI, meracau itu artinya berbicara tidak karuan dan mengeluarkan bunyi secara berulang-ulang tanpa mempunyai arti khusus. dan untuk saat ini, bahkan dari jauh-jauh hari emang hobi aku meracau sendiri. entah itu sekedar bersarang didalam pikiranku berulang kali entah itu kuujarkan dalam bentuk kalimat, tapi biasanya sih kalo aku up ke dunia nyata buah dari racauan pikiranku ini, jatohnya gak ters...

Eps. 01 : kontemplasi

KONTEMPLASI kon.tem.pla.si  /kontèmplasi/ n  renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh malam tadi, aku berbenah isi lemari. sumpek. sampah disana-sini. tapi aku senang. mengapa? mungkin kamu belum pernah dengar kalimat yang bunyinya begini,  "kenangan memang kurang ajar adanya, datang kembali saat belum sempurna menata hati." jelas saja kamu asing dengan kalimat itu, sebab baru saja diolah oleh pikiranku yang belum seberapa ini, hehe.  iya, gak lucu. singkat cerita, tak sengaja kutemukan buku harian ayah dilemari tas-ku. kuputar ingatan jauh-jauh. (2009-2010an) tertujulah pada suatu momentum dimana aku yang kala itu masih duduk di usia sekolah dasar, gabut, dan sedang liburan, iseng-iseng membongkar lemari ayah ibuku (maafkan anak kalian yang kepalang gabut dan kurang ajar ini). entah mengapa semesta mempertemukanku dengan buku biru manis itu. kenapa kubilang manis? karena ukur...