MERACAU
- v berbicara
tidak keruan (waktu sakit, demam, dan sebagainya); mengigau: sepanjang
sakitnya ia ~
- v mengeluarkan
bunyi secara berulang-ulang tanpa mempunyai arti khusus (pada anak usia
3–12 bulan)
halo, selamat malam.
eh, udah pagi sih ini.
oke, selamat pagi.
jadi, sesuai judulnya, aku lagi pengen meracau aja. kebetulan timing-nya juga lagi pas. perbatasan malam ke pagi gini kan biasanya pikiran emang lagi kalang-kabutnya. dan biasanya juga lagi rindu-rindunya *eh //gak.
kenapa aku bilang meracau? karena sesuai makna yang udah kucari di KBBI, meracau itu artinya berbicara tidak karuan dan mengeluarkan bunyi secara berulang-ulang tanpa mempunyai arti khusus.
dan untuk saat ini, bahkan dari jauh-jauh hari emang hobi aku meracau sendiri. entah itu sekedar bersarang didalam pikiranku berulang kali entah itu kuujarkan dalam bentuk kalimat, tapi biasanya sih kalo aku up ke dunia nyata buah dari racauan pikiranku ini, jatohnya gak terstruktur, entah kenapa. rasanya menemukan kalimat yang pas dan saling bersangkutan untuk disebutkan itu lumayan susah, karna aku tipikal orang yang kalo ngomong lidahnya suka kelipet sendiri, kadang malah ketuker-ketuker huruf belakangnya, sampe aku pernah mikir kalo aku ini mengidap disleksia ringan(?) hahaha.
btw ini kutulis racauannya bukan untuk menyudutkan pihak manapun dan menceramahi siapapun, karna ini murni kutulis untuk menyudutkan diriku sendiri kalau-kalau nanti aku lupa diri dan menjadi tolak ukur kemajuan pikiranku yang masih kacau dan kalang-kabut ini untuk beberapa tahun kedepan. apakah aku masih jadi orang yang ‘berantakan’ atau sudah berkembang pesat menjadi pribadi yang ‘well-developed’.
eh, udah pagi sih ini.
oke, selamat pagi.
jadi, sesuai judulnya, aku lagi pengen meracau aja. kebetulan timing-nya juga lagi pas. perbatasan malam ke pagi gini kan biasanya pikiran emang lagi kalang-kabutnya. dan biasanya juga lagi rindu-rindunya *eh //gak.
kenapa aku bilang meracau? karena sesuai makna yang udah kucari di KBBI, meracau itu artinya berbicara tidak karuan dan mengeluarkan bunyi secara berulang-ulang tanpa mempunyai arti khusus.
dan untuk saat ini, bahkan dari jauh-jauh hari emang hobi aku meracau sendiri. entah itu sekedar bersarang didalam pikiranku berulang kali entah itu kuujarkan dalam bentuk kalimat, tapi biasanya sih kalo aku up ke dunia nyata buah dari racauan pikiranku ini, jatohnya gak terstruktur, entah kenapa. rasanya menemukan kalimat yang pas dan saling bersangkutan untuk disebutkan itu lumayan susah, karna aku tipikal orang yang kalo ngomong lidahnya suka kelipet sendiri, kadang malah ketuker-ketuker huruf belakangnya, sampe aku pernah mikir kalo aku ini mengidap disleksia ringan(?) hahaha.
btw ini kutulis racauannya bukan untuk menyudutkan pihak manapun dan menceramahi siapapun, karna ini murni kutulis untuk menyudutkan diriku sendiri kalau-kalau nanti aku lupa diri dan menjadi tolak ukur kemajuan pikiranku yang masih kacau dan kalang-kabut ini untuk beberapa tahun kedepan. apakah aku masih jadi orang yang ‘berantakan’ atau sudah berkembang pesat menjadi pribadi yang ‘well-developed’.
Racauan-ku yang pertama dan sampai pada akhir paragraf ini gak lain dan
gak bukan tentang PENDEWASAAN.
gila ya, ini tuh terasa kali, sumpah. Terlebih lagi di tahun-tahun awal perkuliahan ini, rasanya itu kayak kecemplung di dunia baru yang kau sendiri juga masih meraba-raba mana permukaan mana isinya. Kau diberi banyak pilihan dimana kau bisa bebas memilih tapi dilain sisi kau punya batasan yang kau buat sendiri didiri kau dan sulit untuk kau keluar dari lingkaran setan yang kau ciptakan sendiri dalam pikiranmu. Tapi gak selamanya juga itu diciptakan sama pikiranmu sendiri, terkadang dan jauh lebih sering batasan itu diberi oleh orangtua, yang jelas-jelas punya kewenangan lebih dalam hidupmu. Aku disini gak bisa serta-merta bilang “hidupmu ya kamu yang punya, gak ada orang lain yang bisa mengatur hidupmu, YOLO” dan semacamnya. Ini ya kukasih tau, menurutmu ajalah yang ngerawat kau sedari kau masih bertali pusar nan kemerahan, dari yang kau gatau kalimat apa-apa lalu diajarkan oleh orangtuamu kata demi kata satu persatu dengan sabarnya, sampai kau sebesar ini dan udah punya banyak kosakata tambahan terlepas dari pengajaran orangtuamu yang ternyata kini kau pergunakan untuk meng-offense setiap perkataan orangtuamu dengan mengandalkan jiwa dan akalmu yang lagi mekar-mekarnya dan sangat kau agung-agungkan itu serta berdalih dengan alasan ‘jiwa mudamu’ bergejolak dan harus di-iyakan maunya. Padahal kau sendiri (sangat) masih butuh bimbingan. Pada awal usia 18 tahun, ketika ditahun pertama dan semester pertama kuliah, rasanya aku pengen kayak orang-orang. Bebas main sana sini (bukan berarti aku gak dikasih main, ya), bisa pulang malam, dapat banyak temen, pokoknya yang bener-bener ‘anak muda kuliahan yang masa kini bangetlah’. Semua organisasi pun rasanya pengen kujamahi satu-satu. Tapi plot-twist lah yang terjadi. Masa-masa awal kuliah itu adalah masa dimana anxiety-ku membuncah dan beranak pinak. Kilas balik pas PKKMB aku gak pernah malamnya gak nangis. Bukan, bukan karna senioritas dan bentakan. Tapi karna aku belom bisa beradaptasiJ rasanya itu beraaaat kali. Aku sampe heran kenapa orang-orang bisa ketawa-ketiwi dengan gampangnya dengan orang yang baru aja mereka kenal gitu. Sedang aku berusaha mati-matian membangun persona ramah yang berhasilnya beberapa temanku mudah percaya dengan persona ini dan menganggapku seorang yang extrovert dan gak bisa diam. Mereka gak tau aja usaha mati-matian apa dan apa musuh terbesar yang sedang kuhadapi. gak nyata tapi buat sesak. Kepalaku mau meledak bak bom Nagasaki dan Hiroshima, dan tibalah aku dititik aku pengen minum obat anti-depresi, cutting, dan pergi ke P3M di kampusku. (P3M = sejenis layanan psikologi di fak.psikologi USU). Singkat cerita ajalah ya, aku mulai berdamai dengan diri sendiri. Walau sampe sekarang belum benar-benar bisa damai. Dan oh, buruknya lagi, saat kegilaan anxiety-ku semakin gak karuan, orang terkasihku (saat itu) memutuskan untuk berpisah denganku yang alasannya sebenernya aku gak paham kenapa, tapi bisa kusimpulkan kalo gak ada yang bisa diusahakan dari kami lagi terlebih dia sudah memulai hidup baru (bukan nikah) di kota orang, iya kuliah disana, jelas-jelas circle kehidupannya pun benar-benar baru, sampai-sampai harus banget gituya melupakan ‘yang lama’ ini? Hahaha, intinya. gitu. Dan banyak hal yang gabisa aku ungkapkan disini dan aku malas buat mengingatnya. Rasanya apa? Sudah jatuh tertimpa tangga. Malang benar nasibku di awal kehidupan 18 tahunku. Mulai dari situlah aku kemana-mana mulai sering menenangkan dan menjinakkan amarah dalam diriku ini. Aku sering pergi sendirian. Kemana-mana, kalau gabut dan gak gabut sekalipun. Atau bahkan pulang ngampus. Bukan gak ada temen. Ada. Tapi ada kalanya kita benar-benar ingin sendiri dan larut sama pikiran tanpa harus kesepian. Makanya, aku memilih larut dalam tempat-tempat yang ada orangnya tapi aku sendiri. Dari situ juga, aku mulai merajut asmara dengan band-band atau pemusik berbau ‘indie’ atau kalau gak bisa disebut indie aku sebut aja band ‘folk’, seperti fourtwnty, banda neira (bukan band), sisitipsi, nostress, iksan skuter, payung teduh (yang ini udah lama) dan sejenisnya. Aku merasa lirik-liriknya menenangkan sih. Lebih manusiawi dan realistis daripada sekedar lagu cinta-cintaan gak jelas (kecuali the rain dan Sheila on 7 sih, walaupun banyak lagu tentang cinta, tapi aku tetap SUKAK pake KALI.)
gila ya, ini tuh terasa kali, sumpah. Terlebih lagi di tahun-tahun awal perkuliahan ini, rasanya itu kayak kecemplung di dunia baru yang kau sendiri juga masih meraba-raba mana permukaan mana isinya. Kau diberi banyak pilihan dimana kau bisa bebas memilih tapi dilain sisi kau punya batasan yang kau buat sendiri didiri kau dan sulit untuk kau keluar dari lingkaran setan yang kau ciptakan sendiri dalam pikiranmu. Tapi gak selamanya juga itu diciptakan sama pikiranmu sendiri, terkadang dan jauh lebih sering batasan itu diberi oleh orangtua, yang jelas-jelas punya kewenangan lebih dalam hidupmu. Aku disini gak bisa serta-merta bilang “hidupmu ya kamu yang punya, gak ada orang lain yang bisa mengatur hidupmu, YOLO” dan semacamnya. Ini ya kukasih tau, menurutmu ajalah yang ngerawat kau sedari kau masih bertali pusar nan kemerahan, dari yang kau gatau kalimat apa-apa lalu diajarkan oleh orangtuamu kata demi kata satu persatu dengan sabarnya, sampai kau sebesar ini dan udah punya banyak kosakata tambahan terlepas dari pengajaran orangtuamu yang ternyata kini kau pergunakan untuk meng-offense setiap perkataan orangtuamu dengan mengandalkan jiwa dan akalmu yang lagi mekar-mekarnya dan sangat kau agung-agungkan itu serta berdalih dengan alasan ‘jiwa mudamu’ bergejolak dan harus di-iyakan maunya. Padahal kau sendiri (sangat) masih butuh bimbingan. Pada awal usia 18 tahun, ketika ditahun pertama dan semester pertama kuliah, rasanya aku pengen kayak orang-orang. Bebas main sana sini (bukan berarti aku gak dikasih main, ya), bisa pulang malam, dapat banyak temen, pokoknya yang bener-bener ‘anak muda kuliahan yang masa kini bangetlah’. Semua organisasi pun rasanya pengen kujamahi satu-satu. Tapi plot-twist lah yang terjadi. Masa-masa awal kuliah itu adalah masa dimana anxiety-ku membuncah dan beranak pinak. Kilas balik pas PKKMB aku gak pernah malamnya gak nangis. Bukan, bukan karna senioritas dan bentakan. Tapi karna aku belom bisa beradaptasiJ rasanya itu beraaaat kali. Aku sampe heran kenapa orang-orang bisa ketawa-ketiwi dengan gampangnya dengan orang yang baru aja mereka kenal gitu. Sedang aku berusaha mati-matian membangun persona ramah yang berhasilnya beberapa temanku mudah percaya dengan persona ini dan menganggapku seorang yang extrovert dan gak bisa diam. Mereka gak tau aja usaha mati-matian apa dan apa musuh terbesar yang sedang kuhadapi. gak nyata tapi buat sesak. Kepalaku mau meledak bak bom Nagasaki dan Hiroshima, dan tibalah aku dititik aku pengen minum obat anti-depresi, cutting, dan pergi ke P3M di kampusku. (P3M = sejenis layanan psikologi di fak.psikologi USU). Singkat cerita ajalah ya, aku mulai berdamai dengan diri sendiri. Walau sampe sekarang belum benar-benar bisa damai. Dan oh, buruknya lagi, saat kegilaan anxiety-ku semakin gak karuan, orang terkasihku (saat itu) memutuskan untuk berpisah denganku yang alasannya sebenernya aku gak paham kenapa, tapi bisa kusimpulkan kalo gak ada yang bisa diusahakan dari kami lagi terlebih dia sudah memulai hidup baru (bukan nikah) di kota orang, iya kuliah disana, jelas-jelas circle kehidupannya pun benar-benar baru, sampai-sampai harus banget gituya melupakan ‘yang lama’ ini? Hahaha, intinya. gitu. Dan banyak hal yang gabisa aku ungkapkan disini dan aku malas buat mengingatnya. Rasanya apa? Sudah jatuh tertimpa tangga. Malang benar nasibku di awal kehidupan 18 tahunku. Mulai dari situlah aku kemana-mana mulai sering menenangkan dan menjinakkan amarah dalam diriku ini. Aku sering pergi sendirian. Kemana-mana, kalau gabut dan gak gabut sekalipun. Atau bahkan pulang ngampus. Bukan gak ada temen. Ada. Tapi ada kalanya kita benar-benar ingin sendiri dan larut sama pikiran tanpa harus kesepian. Makanya, aku memilih larut dalam tempat-tempat yang ada orangnya tapi aku sendiri. Dari situ juga, aku mulai merajut asmara dengan band-band atau pemusik berbau ‘indie’ atau kalau gak bisa disebut indie aku sebut aja band ‘folk’, seperti fourtwnty, banda neira (bukan band), sisitipsi, nostress, iksan skuter, payung teduh (yang ini udah lama) dan sejenisnya. Aku merasa lirik-liriknya menenangkan sih. Lebih manusiawi dan realistis daripada sekedar lagu cinta-cintaan gak jelas (kecuali the rain dan Sheila on 7 sih, walaupun banyak lagu tentang cinta, tapi aku tetap SUKAK pake KALI.)
yaampun dah 872 kata aja. Padahal isinya ngebacot sama curhat gak jelas. Ngapain sih aku?
Bodo amatlah, lanjut aja.
Selain masalah perkuliahan, aku juga sering dengki (bahasanya gaenak
banget ya) sama kadar bersosialisasinya orang-orang. Berdasarkan yang aku lihat
dulu ya, sebelom aku bisa berpikir lebih tenang seperti sekarang ini, aku
merasa kenapa semua orang mudah untuk menciptakan relasi yang banyak dan
ber-haha-hihi ria dengan mudahnya lalu menampilkannya di sosmed? Aku yang lagi
kacau-kacaunya dan suka ke-trigger dulu dan sempat beberapa kali puasa
instagram. Menurutku instagram saat itu bener-bener toxic dan ngerusak mentalku
yang masih lembek kek bubur sumsum ini. Tapi namanya hidup, semakin banyak aku
berdamai dan sering berjalannya waktu, perasaan seperti itu hilang dengan
sendirinya. Sekarang, aku gak ambil pusing dengan hidup ‘sosmed’ orang.
Menurutku, ini sebuah prestasi yang patut ku-apresiasi untuk diriku sendiri. I
love the way im processed and still processing and will keep myself processing
as well as I can. berantakan ya grammarnya? monmaap deh, ntar kasih tau ajaya
mana yang bener. Sekarang kalo buka instagram gak pernah ketrigger lagi untuk
inscecure karna aku mikir setiap yang ditampilkan di sosmed bukanlah sesuatu
yang benar-benar fakta. Kita bisa jadi siapa saja di sosmed. Yang jauh bisa
terlihat dekat. Bahkan demi konten yang membuat orang berdecak kagum dan iri
melihat kesempurnaan hidupnya. Padahal kita semua sama hancurnya disini.
Oh, aku juga pengen meracau tentang pandanganku tentang keluarga dan
bahkan kemungkinan untuk berkeluarga kedepannya. Setelah aku melewati periode
hancur kala itu, aku mulai membaca lagi. Kebanyakan sih buku kayak
self-development sama novel fiksi gitu, tapi wattpad juga kutelan aja. Jadi,
singkat cerita lagi ni biar gak kepanjangan, aku baca tulisan-tulisan dari
crowdstoia di wattpad. Pikiranku betul-betul terbuka. Buat nagih, sambil
bergumam ‘ini nih yang aku butuhkan dalam kehidupan, jangan kebanyakan terlena
sama fiksi-fiksi gak berlandaskan logika, yang cuma menye-menye merah jambu
yang alurnya mudah ketebak’. Tulisan dari kak troia rata-rata bisa masuk
kedalam akalku dan aku sependapat sama beliau. Tulisan dia banyak berbau cinta
yang ‘membumi’, pernikahan, filosofi hidup-hidup gitu, jadi seimbang. Dari situ
juga aku mulai memikirkan langkahku dalam berkeluarga kedepannya. Mungkin
terdengar overthinking. Sedikit, tapi perlu. Kadang overthinking itu bagus
daripada pemikiran spontan tapi gak matang. Tapi aku tetap orang yang
menghargai kespontanitasan dalam bertindak sih. Tapi kalo jadinya berabe ya kesel
sendiri. Langsung ajaya, intinya sebelum memutuskan untuk lebih serius dalam
hubungan, kau harus benar-benar tau teman hidupmu ini tipe orang yang seperti
apa, keluarganya gimana, cara meredakan emosinya gimana, sefrekuensi enggak,
sepemikiran enggak, saling melengkapi dan saling meng-cover kekurangan enggak,
dan banyak hal lainnya. Bukan sekedar cinta lantas ayok-ayok aja. Kau mau
terikat dengan orang yang bukan ‘kau’ banget sampai akhir hayatmu? Mau mati
kebosanan bersama orang yang gak tepat untuk berdiskusi tentang hal apapun
karna yang satu sibuk minta didengar yang satu acuh tak acuh dan lebih tertarik
dengan konten media sosial daripada mendengar cerita-ceritamu tentang
kehidupan? Aku sih gak bisa bayangin ya bakalan gimana, jadi intinya harus lebih
selektif lagi. Kalo bisa berkali-kali penyaringan ya jangan kayak sun*co yang
cuma dua kali penyaringan.
Bukan itu ajasih yang jadi pikiranku tentang keluarga kedepannya. Aku
juga sebisa mungkin gak mau beratin keluargaku. Dan aku yakin semua orang pasti
punya pemikiran demikian. Karna aku anak tunggal, otomatis semua harapan
orangtua bertumpu samaku. Aku kesel sama statement manusia yang rata-rata
bilang gini, “enak ya anak tunggal apa-apa kalo minta pasti dikasih, pasti
manja, pasti gak mandiri, pasti hidupnya enak, pasti pasti pasti
abcdefghijklzzz” HEH LOGO KUMON. Kau unsent omonganmu itu teros kau tanyain
satu-satu gimana rasanya jadi anak tunggal. Sebenernya lagi, semua tergantung
didikan orangtuamu sih. Dan alhamdulillahnya, aku punya orangtua yang super
pemikir dan mengajak anaknya untuk berpikir. Jadinya aku ngotak. Walau kadang
gak kepake juga sih, hehe. Dengan segala perspektif orangtuaku yang amat
pemikir realistis namun tetap demokratis dan perasa ini, aku semakin mantap
pengen jadi orang kaya. Kaya materi, kaya hati, kaya ilmu. Yang bisa berdiri
diatas kaki sendiri tanpa bantuan berlebih dari orang lain. Aku yakin semua
orang punya masalah sendiri dan gak harusnya mereka mikirin masalahku dan bantu
memecahkannya. Kadang orang lain kita butuhkan hanya sebagai pendamping dan
pendengar. Walau atas nama kekeluargaan (baik keluarga inti maupun non-inti),
sebisa mungkin tidak memberatkan. Yang aku titik beratkan disini yaitu asas
take and give dan finansial. Sebisa mungkin kita harus ingat jasa keluarga kita
yang membantu kita. Anggap aja kita itu lagi berhutang dan harus dibayar.
Jangan karna label keluarga jadi kita seenak jidat aja menerima tanpa memberi
balasan. Jangan kita berpikir seolah-olah kita yang paling harus dimengerti
keluarga kita terlebih jika keluarga non-inti ya. Membantu itu wajib tapi kita
harus ngotak bahwa mereka juga punya tanggungan. Kalau-kalau keluargamu itu gak
minta balasan, setidaknya perlakuan kau terhadap mereka seolah-olah memberi
balasan, mereka juga gak minta kau untuk membalas dengan kuantitas yang sama,
tapi yang dituntut disini seberapa jauh inisiatif dan kepekaan kau terhadap
keluarga. Jangan sampai terbesit di benak mereka ‘awak demi keluarga, keluarga
demikian’. Jangan. Ada beberapa kejadian yang relatable dengan ini di
kehdiupanku yang membuat aku berkata demikian tapi gak akan kusebutkan disini
karna itu privasi sih. Dan kalau menyangkut keluarga aku bisa nangis sih
nyeritainnya. Apalagi kalo lagi berbincang sama bundaku. Kurasa hanya dengan
topik keluarga aku bisa nangis sambil
bertukar cerita dihadapannya. Aku belum berani nangis karna membicarakan hal
lain sama beliau, walau aku yakin beliau pasti bakal ngerti. Tapi, aku belum
siap aja. Mungkin suatu saat nanti aku bisa lebih terbuka. Semoga.
Terus, aku pengen meracau soal perbedaan perangaiku pas zaman-zaman
sekolah sama yang sekarang, zaman universitas (???). ini ya, pas sekolah
menengah pertama tahun pertama kebawah, aku menilai diriku sendiri sebagai anak
yang mendewakan nilai, gak bisa diajak becanda, tapi bisa juga diajak main-main
sih tetap, tapi untuk anak usia segitu kurasa terlalu pemikir dan tua. Hahaha.
Btw ini menurut pandanganku sebagai aku pribadi ya, gatau pandangan orang lain
gimana. Sampe aku berada pada titik dimana aku capek jadi orang yang serius dan
suka belajar, jadinya pas tahun kedua sekolah menengah pertama keatas sampe
tahun terakhir sekolah menengah atas, aku mulai ‘menggampangkan’ isi otakku,
banyakin becanda, nyeletuk, ketawa sampe bodoh, sampe-sampe aku pernah beberapa
kali dibicarin guru pas rapat karna aku dinilai suka ‘pintar tapi gak sopan
karna suka nyeletuk pas pelajaran’. Hem, oke. Itu pas SMP ya. Pas SMA bodohku
udah mendarah daging kayaknya. Tahun pertama, aku dapat ranking 20an apa
belasan ya lupa aku. Aku kaget kali, aku paling rendah kala itu dapat ranking 3
semasa sekolah (bukan sombong ya tapi fakta gimanaya). Tapi, aku tetap gak acuh
sih saat itu dan tetap, kalo ada tugas aku gak pedulian. Pokoknya betul-betul
gak jelas dan kayak gak punya tujuan hiduplah. Transformasiku kebablasan. Aku
kayak orang yang gak punya prinsip dan pendirian. Parah parah. Walau gitu, aku
jumpa kawan-kawan yang tetap bisa diajak ngereceh tapi mau berkembang juga.
THANKS ABIGOZ DAN LAMBE. Titik perubahan sistem belajarku itu pas aku sebangku
sama orang ter-positif dikelas. Dia adalah juara umum II disekolah. Terlebih
lagi religiusss banget. Pokoknya kebalikan aku kali, tapi dia mau sebangku
samaku dan menularkan kebaikan-kebaikannya padaku. Singkat cerita menjelang
tahun-tahun terakhir sekolah, aku dapat juara 4 dikelas (dan dapat ilmu agama
yang bermanfaat dari beliau karna kami kayak buat mentoring gitukan setiap
jum’at, ada beberapa orang dari kawan-kawan dekatku dan dia sebagai
pe-mentornya. Aku mulai menemukan sedikit jalan lurus di akhir masa sekolahku.
Walau masih jauh lebih banyak kegelapan didalamnya. Nah, kalo sekarang, aku
merasa bener-bener inilah aku. aku tetap menggunakan persona yang seharusnya.
Kalo dulu aku tampak kayak orang extrovert (padahal introvert njir) sekarang
aku kayak ‘yaudahlah, gak semuanya harus ngerti karaktermu’ gitu. Lebih
membatasi diri, lebih mewajari hampir segala hal. Lebih tenang. Tapi tetap
emosional kalo lagi kalut sih, tetap suka nangis sendiri karna overthinking gak
jelas. Lebih receh juga. Tapi satu hal yang membuka mataku lebar-lebar. Aku gak
akan self-diagnose kayak zaman sekolah. Ya, aku self-diagnose kalo aku ini
bipolar. Aku aneh karna aku jarang bisa nge-fit dengan orang lain. Aku gak tau
aku kenapa. kadang kalo senang kayak lagi terbang-terbang ke singgasana Tuhan
dilangit ketujuh, kalo lagi sedih kayak lagi dikubur hidup-hidup di inti bumi.
Intinya, perubahan emosiku ini drastis dan episodik. Kadang aku ngitung
kondisiku ini punya selang waktu seminggu-seminggu. Misal, aku senang minggu
ini, yah berarti minggu depan bakal sedih dong. Begitulah, kira-kira. Dan, sisi
gelapku semasa sekolah aku berusaha mengikuti standard keriangan demi bisa
dianggap dalam satu kelompok. Tapi, gak selamanya berlaku sih kala itu. Tapi
lagi, kadang aku bisa kebablasan juga, kadang kerjaku satu harian cuma ketawa
sampe goblok tapi malemnya nangis-nangis gak jelas karna insecure. Hahahaha.
Ebuset udah jam setengah empat pagi aja.
Mana udah lima halaman plus 2.296 kata lagi.
Mana udah lima halaman plus 2.296 kata lagi.
Oke, sebelum berakhir kebersamaan ini (apaan), aku pengen kasih sepatah
dua kata ajasih.
Terlepas dari tulisan ini punya pembaca atau enggak, intinya aku mau menyampaikan ‘unpopular fact by me kepada orang-orang yang sejauh ini udah sabar menghadapi ke-insecure-an dan curhat gaje tentang kehidupan dan pandangan aku tentang ini itu terlepas dari candaan gak jelas aku’ kepada beberapa orang pilihan yang aku rasa nyaman untuk diajak deep-sharing,
Terlepas dari tulisan ini punya pembaca atau enggak, intinya aku mau menyampaikan ‘unpopular fact by me kepada orang-orang yang sejauh ini udah sabar menghadapi ke-insecure-an dan curhat gaje tentang kehidupan dan pandangan aku tentang ini itu terlepas dari candaan gak jelas aku’ kepada beberapa orang pilihan yang aku rasa nyaman untuk diajak deep-sharing,
“kelen itu ya bener-bener
sesuatu, tetap disitu, jangan jauh, dan menualah sambil membicarakan hal-hal gak penting yang penting bersamaku”
Eh bukan semua teman dekatku bisa kuajak begini. Didalam lingkaran itu,
aku juga memfilter mana yang kira-kira pas untuk kuajak begini. Cocok-cocokan
sih kayak skincare. Maka merasa beruntunglah kalo kalian masuk didalamnya dan
merasa menjadi salah satunya, hahaha. ///GAKSIH. Aku merasa masih butuh
memperlakukan mereka dengan baik karna selama ini aku masih suka seenaknya
sendiri dan terlebih, masih suka ngelama-lamain angkat telpon bahkan sok sibuk
padahal emang lagi pengen gak ngapa-ngapain dan malas berinteraksi aja. Haha.
Ada yang sama?
Okelah, kayaknya aku butuh bikin ‘MERACAU PART II”.
Yaudah kapan-kapan deh. Lumayan lega juga sih dibikin jadi tulisan gini.
So,
Terima kasih dan selamat tidur!
-Medan, 29 Juni 2019.
Komentar
Posting Komentar