KONTEMPLASI
kon.tem.pla.si /kontèmplasi/
n renungan dan sebagainya dengan kebulatan
pikiran atau perhatian penuh
malam tadi, aku berbenah
isi lemari. sumpek.
sampah disana-sini.
tapi aku senang. mengapa?
mungkin kamu belum pernah dengar kalimat yang bunyinya begini,
"kenangan memang kurang ajar adanya, datang kembali saat belum sempurna
menata hati."
jelas saja kamu asing dengan kalimat itu, sebab baru saja diolah oleh pikiranku
yang belum seberapa ini, hehe.
iya, gak lucu.
singkat cerita, tak
sengaja kutemukan buku harian ayah dilemari tas-ku.
kuputar ingatan jauh-jauh.
(2009-2010an)
tertujulah pada suatu momentum dimana aku yang kala itu masih duduk di usia
sekolah dasar, gabut, dan sedang liburan, iseng-iseng membongkar lemari ayah
ibuku (maafkan anak kalian yang kepalang gabut dan kurang ajar ini).
entah mengapa semesta mempertemukanku dengan buku biru manis itu.
kenapa kubilang manis?
karena ukurannya yang sederhana, dipercantik dengan garis miring putih dan
merah muda disertai kepingan hati yang kecil-kecil pada tubuhnya, dan alamak-nya
lagi ditengah-tengah sampul buku tampak karikatur dua sejoli yang mana si
wanita bersandar dipundak si pria dengan pose berdiri dan tak lupa sebuket bunga
berwarna-warni disisi kanan wanita tersebut. keduanya berpakaian trendy tahun
'80an.
buku harian agaknya
sedikit tabu dikalangan lelaki.
ralat, bukan tabu. namun sedikit melenceng dari stigma yang tertanam bahwa
lelaki 'cukup aneh' bila memiliki buku harian, terlebih lagi sampulnya
yang digidaw untuk menggambarkan maskulinitas lelaki yang
dewasa kini kita ketahui banyak didominasi oleh warna-warna gelap yang
menimbulkan terkesan misterius dan classy.
apa yang ada dipikiranku
saat membuka lembar pertama?
jawabannya, terkesan.
ya, pasalnya tulisan
ayahku jauh dari kata berantakan.
malah penuh dengan ukiran, sampai-sampai mataku njelimet waktu
membacanya.
kuakui, tulisan ayahku
lebih estetik dibanding tulisanku (walau susah dibaca).
paragraf demi paragraf kubaca,
sejeli mungkin.
hanya beberapa kisah manis dan kalimat motivasi ala-ala pujangga yang mana
belum terlalu kumengerti maknanya yang kudapat kala itu.
tapi tetap saja, tak henti-hentinya membuatku berdecak kagum betapa halus dan
indahnya tulisan ayahku pada tahun 1988 itu, ditambah lagi usia ayahku ketika
menulis itu sekitar 16 tahun, kalau kita konversikan ke dalam usia sekolah,
ayahku saat itu sedang menempuh pendidikan di bangku sekolah menengah pertama.
sudah lama betul usianya. namun raganya masih awet dan jatuh ke tangan anak
gadisnya -yang masih jauh dari kata matang- dengan cara tidak terhormat.
(2019)
buku
itu kusimpan dalam lemari terdalam, agar tak kecurian ayahku, pikirku. entahlah,
aku saja sampai lupa dimana terakhir kali meletakkannya.
penuh rasa syukur aku ambil buku itu dengan segala rasa penghormatan dan
harubiru layaknya menyambut kepulangan seorang sepuh.
oh iya, sebelumnya, aku lupa kasih tau kamu bahwa saat pertama kali kuambil
buku itu, aku lapor juga pada ayah ibuku.
responnya?
mereka tertawa dan saling mencandai satu sama lain.
ayah malu mengakui dan ibu heboh menyoraki.
aku? jelas ada di kubu ibu dong.
namun, satu hal yang berbeda hari ini.
buku tua itu ditulis sepenuh hati oleh seorang lelaki 16 tahun pada masanya
kemudian direnungi oleh gadis melankoli 19 tahun yang tumbuh beberapa centi
dari sebelumnya.
mengapa segalanya
terasa nyata dan seperti membawa pesan sekaligus pengingat untuk kejadian tempo
lalu yang mengikis habis kembali hatinya yang sudah direkonstruksikan sedemikian
rupa dalam satu momentum saja?
disini, jika kutulis
panjang lebar mengenai isinya mungkin tak akan habis.
bisa sih, hanya saja memakan waktu lama.
intisarinya begini,
pada buku itu dituliskan kalimat indah yang pas dan amat relatable dengan kondisi hatiku yang lagi naik turun gak jelas
ini. apa mungkin Tuhan sengaja menghiburku lewat tulisan dan petuah ayahku yang
masih 16 tahun itu? hahaha, lucu kalau dipikir-pikir. aku jadi ingin menangis
sangkin senang dan benarnya. rasa-rasanya seperti dinasehati oleh teman sendiri.
“Hai
hati yang rapuh… jangan kau tergoda akan kehidupan duniawi yang penuh daya
pikat… yang penuh wah… tetapi sadarilah bahwa duniawi adalah penuh kesesatan…sadarilah
itu hai!
Masih panjang jalan yang harus kita tempuh. Hai hati… kau harus tetap teguh
dalam dadaku bergayut, agar aku tak goyah, agar aku dapat menaklukkan dunia
ini, nafsu, dan…. Cinta murahan yang membawa kemudaratan. Semoga…” -1988
“Tapi
kamu hati-hati lho sama yang namanya ‘cinta’. Kamu harus ingat kamu itu siapa,
bapakmu itu siapa. Jangan sampe orang memandang kita orang rendahan yang tak
tau diri. Saya tau… saya tau… kamu itu lumayan juga, pintarmu, yah lumayan lah
kalo disbanding ama anak SD, tapi harus kamu pertahankan yang telah kamu capai
itu, jadikan hal-hal kecil itu sebagai saus dalam bakso. Oke?” -1988
cuplikan-cuplikan
diatas adalah segelintir dari petuah dan sajak-sajak indah yang dirangkai
ayahku, singkat, tapi tetap saja hatiku menghangat. ternyata selama ini jiwa
melankoli-ku menurun dari beliau. hahaha…
dan sebagai penutup
“eh kok udah penutup aja?” biar
cepet.
aku jadi kepikiran akan rajin membuat tulisan yang mana akan kusimpan sebagai
pengingat untuk diriku sendiri dan semoga untuk anak cucuku kelak.
aku yakin suatu saat mereka akan berterimakasih padaku,
layaknya aku yang berterimakasih pada ayahku.
selama ini kita berpikir bahwa “ah capek,
mending rebahan aja daripada nulis”
gak selamanya enak.
gak selamanya benar.
mulai ubah pola-pikirmu.
yakinlah, jika tulisanmu tak berguna untukmu hari ini,
mungkin kekuatannya baru akan terasa 20 atau 30 bahkan 50 tahun kemudian.
tak ada yang bisa menjamin tulisanmu tetap kuno.
tak ada yang menjamin tulisanmu tetap statis,
manakala ada hati yang bergerak kearah dinamis setelah tulisanmu ia baca.
semangat menebar kehangatan melalui tulisan.
salam hangat selalu dariku untukmu.
-Medan, 20 Juni 2019.
Komentar
Posting Komentar