Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019

Edisi Pare; eps. 03 : "dari stasiun ke stasiun"

Hal yang paling romantis ketika bepergian dengan kereta sepanjang malam ini : melihat nenek yang mengolesi balsem keatas punggung suaminya yang masuk angin, melihat seorang bapak yang duduk sendiri namun sorot matanya lelah dan sepi, melihat suami istri berdampingan yang anaknya juga terlelap disamping mereka, melihat kakek yang berbincang hangat dengan seorang anak perempuan belia yang baru saja dikenalnya namun obrolannya hangat seperti cucu yang lama tak bersua dengan kakeknya, sepasang muda-mudi yang hampir merebahkan kepala di pundak yang satunya padahal belum jelas status mereka apa, dan yang terakhir, aku yang kedapatan mencintai diriku kala menikmati diriku yang mencintai hal-hal sederhana lalu mengabadikannya. 03.00 (hampir) di Stasiun Solobalapan.

Edisi Pare; eps.02 : "Gambir, Monas, dan Golden Hour."

Selamat datang di Soetta! Btw, tadi ibu-ibu regale minta foto samaku dan minta nomorku. HAHAHA BERASA ORANG PENTING. "Siapa tau nanti kalo ke medan bisa ketemu." Dan... aku juga pas keluar menuju belalai gajah, minta foto balik ke ibunya, sebagai barang bukti kalo udah sampe di soetta ke grup cemara (isinya keluarga inti doang).          "bersama ibu-ibu biskuit regale asal jambi" "Ini ibu angkat waktu dipesawat, hahaha" komentar ibu itu waktu aku hendak mengirimnya ke grup cemara. Wow, gitu aja hatiku anget coy. Selepas itu, aku jalan dan pisah sama ibu itu. Beliau dijemput anaknya. Aku sebelum dijemput sama Nikmah (kawan coolyah yg ikut ke pare juga), hendak menemui Bang Andre (sepupuku yang kerja disoetta) dulu. Anjir, ternyata kayak gini rasanya pergi sendiri. Seneng. Nyari bagasi sendiri, seneng. Walau masih meraba-raba juga, hahaha. Lepas dari ambil bagasi, aku ketemu Bang Andre di depan pintu penjemputan. Ngobrol-ngobrol sama Ban...

Edisi Pare; eps.01 : "(berang)kat"

Sabtu ini, tepatnya tanggal 27 Juli 2019, tepatnya lagi hari ini, aku berangkat seorang diri untuk mengisi liburanku yang biasanya gabut ini ke jakarta. Tujuan sebenarnya aku hendak berkunjung ke kampung inggris. Untuk menuntut ilmu, formalnya. Nonformalnya? Untuk nambah pengalaman dan bersenang-senang, tentunya. Noformalnya lagi? Untuk melupakan. HAHAHA, BASI. Tapi emang demikian adanya, jujur akutu. Aku dapat flight pukul 08.40, tapi harus berangkat dari rumah jauh sebelum itu pastinya. Pagi ini, aku dibangunkan bunda jam 05.45, normal rasaku. Pas untuk ukuran flight yang jam delapanan tadi, tapi disinilah drama kecil dimulai. "Loh, udah jam segini, aduh, kok bisa kesiangan!!" Ayah terkejut kala mendapati dirinya yang terbangun 'kesiangan' tadi. Yah, beginilah orangtua. Kalau bisa setengah hari sebelom flight kita udah disuruh nongkrong depan koper kali ya.. Sebenernya, aku senang-senang aja dikhawatirin sama orangtua. Apalagi, karna ini adalah flight perta...

Eps. 04 : ledak-redam

Ledak Redam terlalu banyak pilihan peluang yang membuka jalan, membuka akal pikiran, ingin kujamah mereka semua ya, ideku sedang penuh semangat masih utuh dan belum luruh tapi, tunggu dulu pilah satu-satu redam sedikit ambisi tak terencanamu ambil kertas atur satu demi satu sesuai mampu dan tak lupa kendalikan ekspektasimu ingat-ingat wahai aku, prioritas dan kapabilitas itu yang nomor satu. -fm

Eps. 03 : bermonolog dengan 18.

bermonolog dengan 18. Selamat Tinggal, 18. 18, tepat dimana aku memulai hidup dengan jiwa yang benar-benar baru gonjang-ganjing pergolakan batin mulai kurasakan. bukan, bukan berarti tahun-tahun sebelumnya aku tak merasa demikian. hanya saja, satu tahun ini benar-benar penuh dengan proses pendamaian dan pembelajaran. Hari ini, hari terakhir dimana usia 18 menduduki jiwaku. Kalau saja usia 18 ini memiliki wujud, pasti sudah habis kuhina kau, menunjukkan betapa kesalnya aku padamu. Namun, kalau saja usia 18 ini memiliki wujud, aku ingin bersimpuh berterima kasih padamu, begitu banyak alur cerita tak enak yang pada akhirnya membuatku tertampar berkali-kali, menyadarkan akal bodohku, dan seolah datang sebagai seorang ibu yang menyuruh anaknya terbangun di mimpi siang bolong. Kalau saja usia 18 memiliki wujud, aku pasti dengan lantang meneriaki kelancanganmu karna telah memporak-porandakan imajinasi yang kubangun dengan kumpulan material berkilau yang mahal namu...