Langsung ke konten utama

Eps. 03 : bermonolog dengan 18.


bermonolog dengan 18.

Selamat Tinggal, 18.

18, tepat dimana aku memulai hidup dengan jiwa yang benar-benar baru
gonjang-ganjing pergolakan batin mulai kurasakan.
bukan, bukan berarti tahun-tahun sebelumnya aku tak merasa demikian.
hanya saja, satu tahun ini benar-benar penuh dengan proses pendamaian dan pembelajaran.

Hari ini, hari terakhir dimana usia 18 menduduki jiwaku.
Kalau saja usia 18 ini memiliki wujud, pasti sudah habis kuhina kau,
menunjukkan betapa kesalnya aku padamu.
Namun, kalau saja usia 18 ini memiliki wujud,
aku ingin bersimpuh berterima kasih padamu,
begitu banyak alur cerita tak enak yang pada akhirnya membuatku tertampar berkali-kali,
menyadarkan akal bodohku, dan seolah datang sebagai seorang ibu yang menyuruh anaknya terbangun di mimpi siang bolong.

Kalau saja usia 18 memiliki wujud,
aku pasti dengan lantang meneriaki kelancanganmu karna telah memporak-porandakan imajinasi yang kubangun dengan kumpulan material berkilau yang mahal namun palsu itu.
tapi tanpa sepengetahuanmu, aku pasti menjadi orang pertama yang memeluk kepergianmu sebagai hadiah dari perjumpaan terakhir kita.
hadirmu membawa begitu banyak pelajaran hidup yang tanpamu kini harus kudalami dan kujaga sebagai buah tangan dari kepergianmu yang menyayat, sekaligus pengobat.
Kau harus tau, berapa banyak muara yang telah kuciptakan setahun ini karna menangisi narasi hidup yang tak sesuai dengan imaji idealku kala itu.

Tahun 18, dimana puncak dari segala amarah dan egoku meluap.

Krisis pencarian jati diri, cara beradaptasi, mimpi-mimpi yang tak terealisasi, rasa iri dan dengki, ditinggal pemilik hati, cara berkomunikasi, cara bersosialisasi, minat, bakat dan prestasi, hingga harga diri dan mati.

Wahai, 18
kau harus tau betapa aku hampir menyerah dalam menghadapimu.
barangkali itu menjadi pesan yang dititipkan oleh Tuhan melalui kehadiranmu.
aku malah menyalahkanmu tanpa merubah pola pikir dan sikapku yang kekanakan.
aku malah gemar berpikiran untuk meniadakanmu melalui pikiran-pikiran akan obat antidepresan dan cara untuk menyakiti bahkan mengakhiri keberadaanmu.

Jahat, ya? Hahaha.

Andai kau berwujud 18,
aku ingin kau menjadi sosok rumah tempat aku pulang dengan segala bentuk amarah, tangis, bahkan segala wujud kecemasanku tentang hari esok. Aku yakin, kaulah yang paling paham itu.

Darimu aku belajar,
begitu banyak hal yang tak diajar dan tak wajar.
begitu banyak keikhlasan yang harus aku bayar.
Aku masih menerka apakah penggantimu akan lebih baik darimu?
Atau masih sama?

18, sebentar lagi kau akan kembali pergi
menceritakan laporanmu kepada Tuhan tentang aku yang kau temani setahun ini.

Tolong, sampaikan pada Tuhan aku ingin menangis.
menangis bahagia dan menangis terluka dihadapannya.

Tolong sampaikan pada Tuhan rasa terimakasihku
karena telah dititipkan teman baik dan bijaksana sepertimu.

Tolong juga tanyakan pada Tuhan,
kapan aku bisa benar-benar ikhlas dan bahagia?

Selamat Tinggal 18,
Sampaikan maaf dan salamku pada Tuhan.
Kau akan kukenang.
Jaga diri dan ingat kenangan yang baik-baik tentangku, ya?
-fm

//Rabu, 03 Juli 2019.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi Pare; eps.02 : "Gambir, Monas, dan Golden Hour."

Selamat datang di Soetta! Btw, tadi ibu-ibu regale minta foto samaku dan minta nomorku. HAHAHA BERASA ORANG PENTING. "Siapa tau nanti kalo ke medan bisa ketemu." Dan... aku juga pas keluar menuju belalai gajah, minta foto balik ke ibunya, sebagai barang bukti kalo udah sampe di soetta ke grup cemara (isinya keluarga inti doang).          "bersama ibu-ibu biskuit regale asal jambi" "Ini ibu angkat waktu dipesawat, hahaha" komentar ibu itu waktu aku hendak mengirimnya ke grup cemara. Wow, gitu aja hatiku anget coy. Selepas itu, aku jalan dan pisah sama ibu itu. Beliau dijemput anaknya. Aku sebelum dijemput sama Nikmah (kawan coolyah yg ikut ke pare juga), hendak menemui Bang Andre (sepupuku yang kerja disoetta) dulu. Anjir, ternyata kayak gini rasanya pergi sendiri. Seneng. Nyari bagasi sendiri, seneng. Walau masih meraba-raba juga, hahaha. Lepas dari ambil bagasi, aku ketemu Bang Andre di depan pintu penjemputan. Ngobrol-ngobrol sama Ban...

Eps. 08 : ada apa dengan sementara milik float?

Sebelumnya, aku mau nanya nih, uda pada tau belom Float itu apa? Bukan float kfc apalagi float mekdi ya, bukan. Udah tau? atau belom? Kalo uda tau mantap, kalo belom tau sini biar tak kasih tau. "Float  merupakan sebuah  grup musik   Indonesia  yang didirikan pada tahun  2004 . Grup musik ini beranggotakan 3 orang yaitu Hotma "Meng" Roni Simamora, Windra "Bontel" Benyamin, dan Raymond "Remon" Agus Saputra." (sc:wikipedia) Etapi, berdasarkan yang udah aku baca juga, Float udah beberapa kali gonta-ganti personel. Jadi, foto dan penjelasan singkat tentang apa itu Float juga terkesan gak sinkron. Maapkan. Singkat cerita, berkenaan dengan Float yang diatas, mereka punya lagu nih, judulnya sementara. Beberapa minggu belakangan, aku rajin dengerin ini lagu. Sebenernya, udah tau dari lama lagu ini. Tapi, entah ada angin apa tiba-tiba lagu ini keputer lagi di playlist spotifyku. Awal kali denger, ada beberapa nada yang aku k...

Eps. 01 : kontemplasi

KONTEMPLASI kon.tem.pla.si  /kontèmplasi/ n  renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh malam tadi, aku berbenah isi lemari. sumpek. sampah disana-sini. tapi aku senang. mengapa? mungkin kamu belum pernah dengar kalimat yang bunyinya begini,  "kenangan memang kurang ajar adanya, datang kembali saat belum sempurna menata hati." jelas saja kamu asing dengan kalimat itu, sebab baru saja diolah oleh pikiranku yang belum seberapa ini, hehe.  iya, gak lucu. singkat cerita, tak sengaja kutemukan buku harian ayah dilemari tas-ku. kuputar ingatan jauh-jauh. (2009-2010an) tertujulah pada suatu momentum dimana aku yang kala itu masih duduk di usia sekolah dasar, gabut, dan sedang liburan, iseng-iseng membongkar lemari ayah ibuku (maafkan anak kalian yang kepalang gabut dan kurang ajar ini). entah mengapa semesta mempertemukanku dengan buku biru manis itu. kenapa kubilang manis? karena ukur...