bermonolog dengan 18.
Selamat Tinggal, 18.
18, tepat dimana aku memulai hidup dengan jiwa yang benar-benar baru
gonjang-ganjing pergolakan batin mulai kurasakan.
bukan, bukan berarti tahun-tahun sebelumnya aku tak merasa demikian.
hanya saja, satu tahun ini benar-benar penuh dengan proses pendamaian dan pembelajaran.
gonjang-ganjing pergolakan batin mulai kurasakan.
bukan, bukan berarti tahun-tahun sebelumnya aku tak merasa demikian.
hanya saja, satu tahun ini benar-benar penuh dengan proses pendamaian dan pembelajaran.
Hari ini, hari terakhir dimana usia 18 menduduki jiwaku.
Kalau saja usia 18 ini memiliki wujud, pasti sudah habis kuhina kau,
menunjukkan betapa kesalnya aku padamu.
Kalau saja usia 18 ini memiliki wujud, pasti sudah habis kuhina kau,
menunjukkan betapa kesalnya aku padamu.
Namun, kalau saja usia 18 ini memiliki wujud,
aku ingin bersimpuh berterima kasih padamu,
begitu banyak alur cerita tak enak yang pada akhirnya membuatku tertampar berkali-kali,
menyadarkan akal bodohku, dan seolah datang sebagai seorang ibu yang menyuruh anaknya terbangun di mimpi siang bolong.
aku ingin bersimpuh berterima kasih padamu,
begitu banyak alur cerita tak enak yang pada akhirnya membuatku tertampar berkali-kali,
menyadarkan akal bodohku, dan seolah datang sebagai seorang ibu yang menyuruh anaknya terbangun di mimpi siang bolong.
Kalau saja usia 18 memiliki wujud,
aku pasti dengan lantang meneriaki kelancanganmu karna telah memporak-porandakan imajinasi yang kubangun dengan kumpulan material berkilau yang mahal namun palsu itu.
tapi tanpa sepengetahuanmu, aku pasti menjadi orang pertama yang memeluk kepergianmu sebagai hadiah dari perjumpaan terakhir kita.
hadirmu membawa begitu banyak pelajaran hidup yang tanpamu kini harus kudalami dan kujaga sebagai buah tangan dari kepergianmu yang menyayat, sekaligus pengobat.
aku pasti dengan lantang meneriaki kelancanganmu karna telah memporak-porandakan imajinasi yang kubangun dengan kumpulan material berkilau yang mahal namun palsu itu.
tapi tanpa sepengetahuanmu, aku pasti menjadi orang pertama yang memeluk kepergianmu sebagai hadiah dari perjumpaan terakhir kita.
hadirmu membawa begitu banyak pelajaran hidup yang tanpamu kini harus kudalami dan kujaga sebagai buah tangan dari kepergianmu yang menyayat, sekaligus pengobat.
Kau harus tau, berapa banyak muara yang telah kuciptakan setahun ini
karna menangisi narasi hidup yang tak sesuai dengan imaji idealku kala itu.
Tahun 18, dimana puncak dari segala amarah dan egoku meluap.
Krisis pencarian jati diri, cara beradaptasi, mimpi-mimpi yang tak
terealisasi, rasa iri dan dengki, ditinggal pemilik hati, cara berkomunikasi,
cara bersosialisasi, minat, bakat dan prestasi, hingga harga diri dan mati.
Wahai, 18
kau harus tau betapa aku hampir menyerah dalam menghadapimu.
barangkali itu menjadi pesan yang dititipkan oleh Tuhan melalui kehadiranmu.
aku malah menyalahkanmu tanpa merubah pola pikir dan sikapku yang kekanakan.
aku malah gemar berpikiran untuk meniadakanmu melalui pikiran-pikiran akan obat antidepresan dan cara untuk menyakiti bahkan mengakhiri keberadaanmu.
kau harus tau betapa aku hampir menyerah dalam menghadapimu.
barangkali itu menjadi pesan yang dititipkan oleh Tuhan melalui kehadiranmu.
aku malah menyalahkanmu tanpa merubah pola pikir dan sikapku yang kekanakan.
aku malah gemar berpikiran untuk meniadakanmu melalui pikiran-pikiran akan obat antidepresan dan cara untuk menyakiti bahkan mengakhiri keberadaanmu.
Jahat, ya? Hahaha.
Andai kau berwujud 18,
aku ingin kau menjadi sosok rumah tempat aku pulang dengan segala bentuk amarah, tangis, bahkan segala wujud kecemasanku tentang hari esok. Aku yakin, kaulah yang paling paham itu.
aku ingin kau menjadi sosok rumah tempat aku pulang dengan segala bentuk amarah, tangis, bahkan segala wujud kecemasanku tentang hari esok. Aku yakin, kaulah yang paling paham itu.
Darimu aku belajar,
begitu banyak hal yang tak diajar dan tak wajar.
begitu banyak keikhlasan yang harus aku bayar.
begitu banyak hal yang tak diajar dan tak wajar.
begitu banyak keikhlasan yang harus aku bayar.
Aku masih menerka apakah penggantimu akan lebih baik darimu?
Atau masih sama?
Atau masih sama?
18, sebentar lagi kau akan kembali pergi
menceritakan laporanmu kepada Tuhan tentang aku yang kau temani setahun ini.
menceritakan laporanmu kepada Tuhan tentang aku yang kau temani setahun ini.
Tolong, sampaikan pada Tuhan aku ingin menangis.
menangis bahagia dan menangis terluka dihadapannya.
menangis bahagia dan menangis terluka dihadapannya.
Tolong sampaikan pada Tuhan rasa terimakasihku
karena telah dititipkan teman baik dan bijaksana sepertimu.
karena telah dititipkan teman baik dan bijaksana sepertimu.
Tolong juga tanyakan pada Tuhan,
kapan aku bisa benar-benar ikhlas dan bahagia?
kapan aku bisa benar-benar ikhlas dan bahagia?
Selamat Tinggal 18,
Sampaikan maaf dan salamku pada Tuhan.
Kau akan kukenang.
Jaga diri dan ingat kenangan yang baik-baik tentangku, ya?
Jaga diri dan ingat kenangan yang baik-baik tentangku, ya?
-fm
//Rabu, 03 Juli 2019.
Komentar
Posting Komentar