Sabtu ini, tepatnya tanggal 27 Juli 2019, tepatnya lagi hari ini, aku berangkat seorang diri untuk mengisi liburanku yang biasanya gabut ini ke jakarta. Tujuan sebenarnya aku hendak berkunjung ke kampung inggris. Untuk menuntut ilmu, formalnya. Nonformalnya? Untuk nambah pengalaman dan bersenang-senang, tentunya. Noformalnya lagi? Untuk melupakan. HAHAHA, BASI.
Tapi emang demikian adanya, jujur akutu.
Aku dapat flight pukul 08.40, tapi harus berangkat dari rumah jauh sebelum itu pastinya. Pagi ini, aku dibangunkan bunda jam 05.45, normal rasaku. Pas untuk ukuran flight yang jam delapanan tadi, tapi disinilah drama kecil dimulai.
"Loh, udah jam segini, aduh, kok bisa kesiangan!!" Ayah terkejut kala mendapati dirinya yang terbangun 'kesiangan' tadi.
Yah, beginilah orangtua. Kalau bisa setengah hari sebelom flight kita udah disuruh nongkrong depan koper kali ya..
Sebenernya, aku senang-senang aja dikhawatirin sama orangtua. Apalagi, karna ini adalah flight pertamaku seorang diri, yang terakhir kali naik pesawat juga 5 tahun lalu, jadi ortuku betul-betul KETER kali.
Singkat cerita (betul-betul kusingkat ini) aku udah necis dengan jilbab ijo tentaraku dan baju garis-garis hitam. Tapi koper belom dipasang password. Tadinya mau kukasih pola kan kayak dihape-hape gitu, tapi baru inget koperku gak layar sentuh. Hehe. Jadilah, aku dan ayahku masang password koperku yang sangat sangat awam kali kodenya, tanggal bulan dan tahun lahirku. Berhubung aku orangnya pelupa garis finish akut, ya jadi itu ajadeh kubuat, dame dame ajala yakan.
Selain ayah bunda, Ruri juga ikut nganterin ke bandara. Kelen tau gak Ruri siapa? Dia sepupuku yang sama sama kacaunya denganku. Dia sepupuku pas berduet di podcast CUCUNENEK yang kupublish dua hari lalu di anchor, etapi bisa juga kok didenger di spotify! Nanti kalo sempat kutaro linknya disini yo.
Mobil pun udah dipanasi sama ayah. Tau gak cara manasinnya gimana?
"Jelek lo! Dekil! Kuntet! Jomblo! Idup lagi!"
eh, gak gak.
Ya dipanasin kayak biasa. Diputer kuncinya, abistu digas. Bukan ngegas kayak yang biasa orang medan termasuk aku lakukan ya sodara sodara.
Finally literally musically, kami masuk kedalam mobil. Bunda ternyata udah nyiapin sarapan untuk kami berempat makan dijalan. Mie goreng + sosis + nasi.
Yaudah, jadi meluncur tu kan ke bandara.
Bentar-bentar, kami singgah dulu ke K24 di SPBU Haji Anif. Tau kenapa? Mau beli gentamicin untuk aku, ada-ada ajaya penyakit mata ini muncul pas aku mau berangkat pula. Kenapa gak pas aku nolep-nolepnya dirumah dia lahir? Gak seneng banget liat yg punya mata nanti liat-liat cowo ganteng disana ya?! Dasar, mataku emang cemburuan orangnya.
Lanjut, kami meluncur ke bandara. Kali ini gak ada acara singgah-singgah lagi. Pas check-in, ternyata koperku gak bisa masuk kabin. Padahal rencananya mau masuk kabin biar aku gaperlu keteter lagi gitukan. Eh, pas ditimbang..
"Maaf kak ini harus masuk bagasi kopernya, udah 10 kg soalnya."
Ebuset. Gua bawa beras kali ya.
Singkat cerita, tibalah dimana kami ada di depan gerbang pilihan, domestik atau internesyenel. Udah kayak milih mau masuk pintu surga atau neraka. Oke, lebay.
"Aduh dina maunya bawa tas-tas kecil gitula untuk hape, tiket, ktpnya, atau apa gitu biar gak payah buka tas-tas lagi."
"Ini jaketnya dipake aja, taro tiketnya disitu."
"Enggak usah yah, gakmuat, nanti tiketnya malah jatoh, gausah. Iya gapapa loh dina pegang aja gak jatoh suer, percaya la."
"Udah dipake aja ini jaketnya" bunda hendak memasangkan jaket, tapi aku tolak. Panas cyiin.
Ujung-ujungnya setelah drama jaket dan tiket beserta ktp yang memancing 'kebingungan' kedua orangtua itu, padahal anaknya santuy aja dan udah diyakini berjuta-juta kali pula kalo anaknya-ini-bisa-dipercaya, akhirnya setelah rengekan-rengekan penuh keyakinan yang alay dari si jilbab ijo tentara ini, ia masuk gate domestik.
Dengan raut wajah orangtua yang superduper sangatamat was-was dan diiringi dengan seringai ejekan dari Ruri yang melihat segala drama kepercayaan ini dari pagi buta.
Aku masuk gate domestik, untuk yang pertama kali, seorang diri. Ber-dah ria dengan ketiga orang rumah yang berada diatas balkon (apaya bilangnya?) bandara itu. Aku mencari-cari gate 11, tempat pesawatku parkir. Sumpah, gak deg-degan. Tapi, lebih ke takut buat malu. Soalnya aku rawan berbuat keanehan dipublik. Ternyata gini ya rasanya naik pesawat sendirian. HAHA.
Benar saja, baru saja aku hendak mencari-cari gate, hapeku sudah berdering sana-sini. Mulai dari okaa-san, otou-san, bahkan calon suami kakak sepupuku yang kebetulan kerja di tower KNO. Gila, ya. Sepeduli itu orang-orang samaku, tapi aku gak pernah bersyukur dan ngerasa kurang teroos, kayak gapernah ada yang peduli.
Ingat kawan, jangan karna ada satu orang yang gak peduli samamu, dunia gak peduli juga samamu.
Itu pelajaran yang bisa kupetik hari ini.
Chat-chat dari sobat juga masuk. Aku pamit. Banyak juga yang nanya,
"Eeh kau kemana?" yang ini dari Kerun
"Is aku benci sama kau pigi gak bilang-bilang." yang ini dari Anggik
Ya, aku emang gak bilang-bilang kali, malas mengumbar -ecie gaya. Pengennya nanti pas aku buat story, orang-orang pada nanyain,
"LOH KAU KEMANA PAT?"
"LOH KOK DISINI KAU?"
"NGAPAIN KESITU WOY? NUMPANG BERAK?"
dsb.
Pokoknya ini sekarang aku ngetik di pesawat.
Alhamdulillah, tadi ada satu kejadian awkward juga. Anjir.
Aku salah duduk. Aku 11b, jadinya duduk di 11e, sibolot.
Pas pramugari dan orang yang mau duduk disitu negur, aku udah buka sepatu dong :)
Yaudah jadi aku pindah ke sebelah, dengan nenteng sepatu dan tas ini serta jaket yang gajadi kupake pas dibandari tadi. Nyesel juga ga milih bangku dekat jendela, huhu, gakbisa nengok awan, gakbisa poto-poto cantik ala ala awan tumblr.
Ohiya, ada beberapa adegan yang kelewat, pas masih dibandara tadi, ayah langsung ngeshare kepergianku ini digrup keluarga dong, yaa lebih sosyel bapakku emang. Dan dikomentari beberapa anggota keluarga juga. Ini nih, momen dimana kau galau mau balas apa. Alhasil, balasan yg kuketik,
"Hehehehehe."
"(Emot)"
"Aamiin, makasih pakde/bude/abang/kakak/sayang/mantan." Eh enggak.
Terus Bang Upan, selaku calon suami kakak sepupuku yang baik dan supeeeel kali orangnya ini walopun kayak uget-uget dikasi air raksa, gerak terooss. Bang Upan ini rela-relain dari twin tower (eh, bukan) dari tower navigasi di bandara naek mobil bandara itu ke gate 11. Tepatnya pintu H. Wah pandai sekali memang Bang Upan ini mencari hati anggota keluarga calon istrinya. Hahahaha. Sekalian mungkin mau jumpain ayah bundaku juga, sekalian nyepek dong, karna kakak sepupuku yang merupakan calon istri Bang Upan, Kak Ayu, ini sementara tinggal dirumahku. Tapi sejauh ini, aku sangat sangat menghargai kepedulian Bang Upan ini, yang notabenenya belom jadi keluargaku malah. Huhuuu.
Btw, ini aku duduk ditengah, samping kiriku ibu-ibu jilbab merah asal Jambi yang nawarin biskuit regale-nya lagi tidur. Samping kananku, cowok jaket hitam, anak usu yang mau ke jakarta karna ada acara dirumah opungnya (denger tadi pas lagi cakap ditelpon) juga lagi tidur. Aku? Tadinya baca buku. Cuman kepikiran, kenapa gak nulis aja gituya? Kan lumayan nanti bisa dibaca-baca pas pulang.
Aku pengen liat awan, tapi jendelanya ditutup sama ibu biskuit regale :(
Aku sesak pipis, tapi si jaket hitam ini lagi tidur pules kali :(
Yodahla ya, nanti kita sambung lagi di episode berikutnya.
Daah,
Aku mau denger lagu sambil ngayal dolo.
10.25
Citilink, QG913, diatas awan.
Tapi emang demikian adanya, jujur akutu.
Aku dapat flight pukul 08.40, tapi harus berangkat dari rumah jauh sebelum itu pastinya. Pagi ini, aku dibangunkan bunda jam 05.45, normal rasaku. Pas untuk ukuran flight yang jam delapanan tadi, tapi disinilah drama kecil dimulai.
"Loh, udah jam segini, aduh, kok bisa kesiangan!!" Ayah terkejut kala mendapati dirinya yang terbangun 'kesiangan' tadi.
Yah, beginilah orangtua. Kalau bisa setengah hari sebelom flight kita udah disuruh nongkrong depan koper kali ya..
Sebenernya, aku senang-senang aja dikhawatirin sama orangtua. Apalagi, karna ini adalah flight pertamaku seorang diri, yang terakhir kali naik pesawat juga 5 tahun lalu, jadi ortuku betul-betul KETER kali.
Singkat cerita (betul-betul kusingkat ini) aku udah necis dengan jilbab ijo tentaraku dan baju garis-garis hitam. Tapi koper belom dipasang password. Tadinya mau kukasih pola kan kayak dihape-hape gitu, tapi baru inget koperku gak layar sentuh. Hehe. Jadilah, aku dan ayahku masang password koperku yang sangat sangat awam kali kodenya, tanggal bulan dan tahun lahirku. Berhubung aku orangnya pelupa garis finish akut, ya jadi itu ajadeh kubuat, dame dame ajala yakan.
Selain ayah bunda, Ruri juga ikut nganterin ke bandara. Kelen tau gak Ruri siapa? Dia sepupuku yang sama sama kacaunya denganku. Dia sepupuku pas berduet di podcast CUCUNENEK yang kupublish dua hari lalu di anchor, etapi bisa juga kok didenger di spotify! Nanti kalo sempat kutaro linknya disini yo.
Mobil pun udah dipanasi sama ayah. Tau gak cara manasinnya gimana?
"Jelek lo! Dekil! Kuntet! Jomblo! Idup lagi!"
eh, gak gak.
Ya dipanasin kayak biasa. Diputer kuncinya, abistu digas. Bukan ngegas kayak yang biasa orang medan termasuk aku lakukan ya sodara sodara.
Finally literally musically, kami masuk kedalam mobil. Bunda ternyata udah nyiapin sarapan untuk kami berempat makan dijalan. Mie goreng + sosis + nasi.
Yaudah, jadi meluncur tu kan ke bandara.
Bentar-bentar, kami singgah dulu ke K24 di SPBU Haji Anif. Tau kenapa? Mau beli gentamicin untuk aku, ada-ada ajaya penyakit mata ini muncul pas aku mau berangkat pula. Kenapa gak pas aku nolep-nolepnya dirumah dia lahir? Gak seneng banget liat yg punya mata nanti liat-liat cowo ganteng disana ya?! Dasar, mataku emang cemburuan orangnya.
Lanjut, kami meluncur ke bandara. Kali ini gak ada acara singgah-singgah lagi. Pas check-in, ternyata koperku gak bisa masuk kabin. Padahal rencananya mau masuk kabin biar aku gaperlu keteter lagi gitukan. Eh, pas ditimbang..
"Maaf kak ini harus masuk bagasi kopernya, udah 10 kg soalnya."
Ebuset. Gua bawa beras kali ya.
Singkat cerita, tibalah dimana kami ada di depan gerbang pilihan, domestik atau internesyenel. Udah kayak milih mau masuk pintu surga atau neraka. Oke, lebay.
"Aduh dina maunya bawa tas-tas kecil gitula untuk hape, tiket, ktpnya, atau apa gitu biar gak payah buka tas-tas lagi."
"Ini jaketnya dipake aja, taro tiketnya disitu."
"Enggak usah yah, gakmuat, nanti tiketnya malah jatoh, gausah. Iya gapapa loh dina pegang aja gak jatoh suer, percaya la."
"Udah dipake aja ini jaketnya" bunda hendak memasangkan jaket, tapi aku tolak. Panas cyiin.
Ujung-ujungnya setelah drama jaket dan tiket beserta ktp yang memancing 'kebingungan' kedua orangtua itu, padahal anaknya santuy aja dan udah diyakini berjuta-juta kali pula kalo anaknya-ini-bisa-dipercaya, akhirnya setelah rengekan-rengekan penuh keyakinan yang alay dari si jilbab ijo tentara ini, ia masuk gate domestik.
Dengan raut wajah orangtua yang superduper sangatamat was-was dan diiringi dengan seringai ejekan dari Ruri yang melihat segala drama kepercayaan ini dari pagi buta.
Aku masuk gate domestik, untuk yang pertama kali, seorang diri. Ber-dah ria dengan ketiga orang rumah yang berada diatas balkon (apaya bilangnya?) bandara itu. Aku mencari-cari gate 11, tempat pesawatku parkir. Sumpah, gak deg-degan. Tapi, lebih ke takut buat malu. Soalnya aku rawan berbuat keanehan dipublik. Ternyata gini ya rasanya naik pesawat sendirian. HAHA.
Benar saja, baru saja aku hendak mencari-cari gate, hapeku sudah berdering sana-sini. Mulai dari okaa-san, otou-san, bahkan calon suami kakak sepupuku yang kebetulan kerja di tower KNO. Gila, ya. Sepeduli itu orang-orang samaku, tapi aku gak pernah bersyukur dan ngerasa kurang teroos, kayak gapernah ada yang peduli.
Ingat kawan, jangan karna ada satu orang yang gak peduli samamu, dunia gak peduli juga samamu.
Itu pelajaran yang bisa kupetik hari ini.
Chat-chat dari sobat juga masuk. Aku pamit. Banyak juga yang nanya,
"Eeh kau kemana?" yang ini dari Kerun
"Is aku benci sama kau pigi gak bilang-bilang." yang ini dari Anggik
Ya, aku emang gak bilang-bilang kali, malas mengumbar -ecie gaya. Pengennya nanti pas aku buat story, orang-orang pada nanyain,
"LOH KAU KEMANA PAT?"
"LOH KOK DISINI KAU?"
"NGAPAIN KESITU WOY? NUMPANG BERAK?"
dsb.
Pokoknya ini sekarang aku ngetik di pesawat.
Alhamdulillah, tadi ada satu kejadian awkward juga. Anjir.
Aku salah duduk. Aku 11b, jadinya duduk di 11e, sibolot.
Pas pramugari dan orang yang mau duduk disitu negur, aku udah buka sepatu dong :)
Yaudah jadi aku pindah ke sebelah, dengan nenteng sepatu dan tas ini serta jaket yang gajadi kupake pas dibandari tadi. Nyesel juga ga milih bangku dekat jendela, huhu, gakbisa nengok awan, gakbisa poto-poto cantik ala ala awan tumblr.
Ohiya, ada beberapa adegan yang kelewat, pas masih dibandara tadi, ayah langsung ngeshare kepergianku ini digrup keluarga dong, yaa lebih sosyel bapakku emang. Dan dikomentari beberapa anggota keluarga juga. Ini nih, momen dimana kau galau mau balas apa. Alhasil, balasan yg kuketik,
"Hehehehehe."
"(Emot)"
"Aamiin, makasih pakde/bude/abang/kakak/sayang/mantan." Eh enggak.
Terus Bang Upan, selaku calon suami kakak sepupuku yang baik dan supeeeel kali orangnya ini walopun kayak uget-uget dikasi air raksa, gerak terooss. Bang Upan ini rela-relain dari twin tower (eh, bukan) dari tower navigasi di bandara naek mobil bandara itu ke gate 11. Tepatnya pintu H. Wah pandai sekali memang Bang Upan ini mencari hati anggota keluarga calon istrinya. Hahahaha. Sekalian mungkin mau jumpain ayah bundaku juga, sekalian nyepek dong, karna kakak sepupuku yang merupakan calon istri Bang Upan, Kak Ayu, ini sementara tinggal dirumahku. Tapi sejauh ini, aku sangat sangat menghargai kepedulian Bang Upan ini, yang notabenenya belom jadi keluargaku malah. Huhuuu.
Btw, ini aku duduk ditengah, samping kiriku ibu-ibu jilbab merah asal Jambi yang nawarin biskuit regale-nya lagi tidur. Samping kananku, cowok jaket hitam, anak usu yang mau ke jakarta karna ada acara dirumah opungnya (denger tadi pas lagi cakap ditelpon) juga lagi tidur. Aku? Tadinya baca buku. Cuman kepikiran, kenapa gak nulis aja gituya? Kan lumayan nanti bisa dibaca-baca pas pulang.
Aku pengen liat awan, tapi jendelanya ditutup sama ibu biskuit regale :(
Aku sesak pipis, tapi si jaket hitam ini lagi tidur pules kali :(
Yodahla ya, nanti kita sambung lagi di episode berikutnya.
Daah,
Aku mau denger lagu sambil ngayal dolo.
10.25
Citilink, QG913, diatas awan.
Komentar
Posting Komentar