Halo, calon jenazah :)
Jadi belakangan ini,
otakku sejujurnya penuh sama tema dan judul yang pengen aku tulis di blog,
namun waktunya selalu aja gak merestui. Minggu-minggu ini full dengan ngerjain
tugas kelompok, terus kalo ada waktu luang dikit entah apa aja yang kukerjakan,
salah satunya rebahan. Karena, REBAHAN ADALAH KEGIATAN SURGAWI DI ATAS BUMI
YANG DUNIAWI.
Bahkan "Edisi
Pare" aja aku masih ngutang. Walaupun ngutangnya sama diri sendiri sih,
hahaha.
Nah, sekarang aku lagi
ada waktu sedikit untuk nulis. Jadilah tulisan singkat yang akan kubuat
mengangkat salah satu tema yang mungkin masih banyak yang bertanya-tanya ‘aPaaN
TucH??’.
Dan tema yang akan dan
segera aku tulis dibawah adalah tak lain dan tak bukan :
PLAYING-VICTIM KEGEMARAN
KITA SEMUA!
Waktu bimbingan sama
dosbing beberapa minggu yang lalu, beliau dan beberapa teman sempat nyeletuk
tentang "Playing-Victim" ketika kami lagi dibacakan hasil dari tes kepribadian
kami.
Aku yang emang udah
pernah dengar tentang istilah itu sebelumnya namun belom pernah ada niatan buat
mengulik lebih dalam pun bertanya-tanya. dalam hati.
APA SIH PLAYING-VICTIM
ITU WOY?
tibalah saat aku pulang
kerumah, aku langsung searching tentang playing-victim.
Jadi, playing-victim
adalah istilah yang dipakai untuk menyebut sebuah sifat atau karakteristik
yang suka menyalahkan orang lain dan keadaan, walaupun posisinya orang tersebut
yang bersalah. Tapi tetep aja dia kekeuh tidak ingin disalahkan dan melimpahkan
kepada orang-orang bahkan takdir di sekitarnya.
Gimana? Pasti pernah kan?
Bohong kalo gak pernahJ
Tapi mungkin bagi
sebagian orang yang berjiwa malaikat berhati suci seputih melati, gak pernah sama
sekali playing-victim. Bisa aja.
Jujur, sampai sekarang
bahkan aku terkadang masih suka melakukan tindakan toxic dan gak terpuji
demikian. Walaupun toxic, rasanya enak aja gitu untuk menyalahkan keadaan
bahkan orang lain. Jatohnya kayak lempar batu sembunyi tangan. Semua dilakukan
demi melindungi diri sendiri yang sebenarnya rapuh dan tidak sportif bahkan
untuk dirinya sendiri.
Tidak dipungkiri emang,
ada beberapa hal yang diluar kendali kita. Kita mengharap A dapatnya malah XYZ.
Lantas, kita menunjuk-nunjuk Tuhan sebagai pemeran antagonis terbesar dalam
naskah indah yang kita rangkai sendiri. Kita lupa kita apa dan siapa. Apa saja
kesalahan yang pernah kita lakukan sehingga Tuhan menghapus beberapa bagian
yang tak pantas untuk kita tulis dalam naskah. Kita terlalu cepat menyimpulkan
jalan cerita. Tanpa sadar, ternyata naskah kita juga perlu editor. Bisa saja
sekarang kita misuh-misuh dengan naskah jelek campuran tangan Tuhan, padahal
Tuhan sebagai editor terbaik malah menyiapkan epilog yang indah?
Diatas adalah salah satu
contoh playing-victim, dalam konteks yang paling besar. Bagaimana dengan
konteks kecil? Seperti halnya ketika kita mau pergi jalan-jalan bersama teman seharian
untuk melepas penat, eh ibumu tiba-tiba tergesa menyuruh kamu pergi belanja ini
itu untuk keperluan rumah? Lantas kita menyalahkan ibu. Lalu, apa yang harus
diubah dan disalahkan dari kejadian ini? Aku yakin sejujurnya ego kita pasti
akan sedikit kesal bahkan ingin rasanya marah dihadapan ibu. Rasanya ingin
menyalahkan sang ibu terus-terusan. Tapi coba kita telisik lebih dalam. Bukankah
peran ibu harusnya lebih penting dan harus lebih diprioritaskan? Walau dalam
kasus seperti ini, kamu masih bisa berunding lagi dan melakukan tawar-menawar
dengan sang ibu,
Memang, sulit untuk
mediasi dengan diri sendiri. Menjinakkan ego yang sudah mendarah daging. Akupun
begitu. Sangat sulit. Sudah begitu banyak naskah sempurna yang kuciptakan,
namun lagi-lagi harus mengalah dengan memberi Tuhan ruang untuk menyunting dan
menambah-nambahi naskah yang tak lagi sempurna sesuai pandangku.
Kalau sudah begitu, sudah
bisa tergambar bukan bagaimana toxic-nya playing-victim itu sobat-sobat
sekalian?
Sekedar menambahi, aku
akan menyertakan beberapa tanda kalau kita adalah orang yang senang playing-victim
yang aku kutip dari website idntimes.
Ini 5 Tanda Kalau Kamu Ternyata Suka
"Playing-Victim", Sadar Gak?
1. Suka menyalahkan orang lain bahkan atas apa yang kamu
sendiri lakukan.
2. Jika ada hal serius yang berada di bawah tanggung
jawabmu, kamu lebih suka meminta orang lain menggantikan posisimu.
3. Kamu suka menceritakan kesalahan orang lain, tapi
meminta siapa pun melupakan kesalahanmu.
4. Mudah mengungkit kejadian masa lalu yang menyakitkan
hatimu.
5. Yang pasti, gak mau mengakui kesalahan apalagi harus
minta maaf.
Kira-kira
sekian dulu yang bisa aku bagi hari ini. Mungkin masih terlalu banyak
kekurangan dalam penyampaian.
Aku
sadar dan tetap ingin belajar. Kita sama-sama belajar ya?
Selamat
Petang!
18.05 p.m.
YES248, 10 September 2019.
YES248, 10 September 2019.
Mantap
BalasHapus