Langsung ke konten utama

Eps. 05 : playing-victim kegemaran kita semua!


Halo, calon jenazah :)

Jadi belakangan ini, otakku sejujurnya penuh sama tema dan judul yang pengen aku tulis di blog, namun waktunya selalu aja gak merestui. Minggu-minggu ini full dengan ngerjain tugas kelompok, terus kalo ada waktu luang dikit entah apa aja yang kukerjakan, salah satunya rebahan. Karena, REBAHAN ADALAH KEGIATAN SURGAWI DI ATAS BUMI YANG DUNIAWI. 
Bahkan "Edisi Pare" aja aku masih ngutang. Walaupun ngutangnya sama diri sendiri sih, hahaha.

Nah, sekarang aku lagi ada waktu sedikit untuk nulis. Jadilah tulisan singkat yang akan kubuat mengangkat salah satu tema yang mungkin masih banyak yang bertanya-tanya ‘aPaaN TucH??’.
Dan tema yang akan dan segera aku tulis dibawah adalah tak lain dan tak bukan :
PLAYING-VICTIM KEGEMARAN KITA SEMUA! 

Waktu bimbingan sama dosbing beberapa minggu yang lalu, beliau dan beberapa teman sempat nyeletuk tentang "Playing-Victim" ketika kami lagi dibacakan hasil dari tes kepribadian kami.
Aku yang emang udah pernah dengar tentang istilah itu sebelumnya namun belom pernah ada niatan buat mengulik lebih dalam pun bertanya-tanya. dalam hati.

APA SIH PLAYING-VICTIM ITU WOY?

tibalah saat aku pulang kerumah, aku langsung searching tentang playing-victim.

Jadi, playing-victim adalah istilah yang dipakai untuk menyebut sebuah sifat atau karakteristik yang suka menyalahkan orang lain dan keadaan, walaupun posisinya orang tersebut yang bersalah. Tapi tetep aja dia kekeuh tidak ingin disalahkan dan melimpahkan kepada orang-orang bahkan takdir di sekitarnya.

Gimana? Pasti pernah kan? Bohong kalo gak pernahJ
Tapi mungkin bagi sebagian orang yang berjiwa malaikat berhati suci seputih melati, gak pernah sama sekali playing-victim. Bisa aja.

Jujur, sampai sekarang bahkan aku terkadang masih suka melakukan tindakan toxic dan gak terpuji demikian. Walaupun toxic, rasanya enak aja gitu untuk menyalahkan keadaan bahkan orang lain. Jatohnya kayak lempar batu sembunyi tangan. Semua dilakukan demi melindungi diri sendiri yang sebenarnya rapuh dan tidak sportif bahkan untuk dirinya sendiri.

Tidak dipungkiri emang, ada beberapa hal yang diluar kendali kita. Kita mengharap A dapatnya malah XYZ. Lantas, kita menunjuk-nunjuk Tuhan sebagai pemeran antagonis terbesar dalam naskah indah yang kita rangkai sendiri. Kita lupa kita apa dan siapa. Apa saja kesalahan yang pernah kita lakukan sehingga Tuhan menghapus beberapa bagian yang tak pantas untuk kita tulis dalam naskah. Kita terlalu cepat menyimpulkan jalan cerita. Tanpa sadar, ternyata naskah kita juga perlu editor. Bisa saja sekarang kita misuh-misuh dengan naskah jelek campuran tangan Tuhan, padahal Tuhan sebagai editor terbaik malah menyiapkan epilog yang indah?

Diatas adalah salah satu contoh playing-victim, dalam konteks yang paling besar. Bagaimana dengan konteks kecil? Seperti halnya ketika kita mau pergi jalan-jalan bersama teman seharian untuk melepas penat, eh ibumu tiba-tiba tergesa menyuruh kamu pergi belanja ini itu untuk keperluan rumah? Lantas kita menyalahkan ibu. Lalu, apa yang harus diubah dan disalahkan dari kejadian ini? Aku yakin sejujurnya ego kita pasti akan sedikit kesal bahkan ingin rasanya marah dihadapan ibu. Rasanya ingin menyalahkan sang ibu terus-terusan. Tapi coba kita telisik lebih dalam. Bukankah peran ibu harusnya lebih penting dan harus lebih diprioritaskan? Walau dalam kasus seperti ini, kamu masih bisa berunding lagi dan melakukan tawar-menawar dengan sang ibu,

Memang, sulit untuk mediasi dengan diri sendiri. Menjinakkan ego yang sudah mendarah daging. Akupun begitu. Sangat sulit. Sudah begitu banyak naskah sempurna yang kuciptakan, namun lagi-lagi harus mengalah dengan memberi Tuhan ruang untuk menyunting dan menambah-nambahi naskah yang tak lagi sempurna sesuai pandangku.

Kalau sudah begitu, sudah bisa tergambar bukan bagaimana toxic-nya playing-victim itu sobat-sobat sekalian?

Sekedar menambahi, aku akan menyertakan beberapa tanda kalau kita adalah orang yang senang playing-victim yang aku kutip dari website idntimes.

Ini 5 Tanda Kalau Kamu Ternyata Suka "Playing-Victim", Sadar Gak?

1. Suka menyalahkan orang lain bahkan atas apa yang kamu sendiri lakukan.

2. Jika ada hal serius yang berada di bawah tanggung jawabmu, kamu lebih suka meminta orang lain menggantikan posisimu.

3. Kamu suka menceritakan kesalahan orang lain, tapi meminta siapa pun melupakan kesalahanmu.

4. Mudah mengungkit kejadian masa lalu yang menyakitkan hatimu.

5. Yang pasti, gak mau mengakui kesalahan apalagi harus minta maaf.


Kira-kira sekian dulu yang bisa aku bagi hari ini. Mungkin masih terlalu banyak kekurangan dalam penyampaian.
Aku sadar dan tetap ingin belajar. Kita sama-sama belajar ya?

Selamat Petang!

18.05 p.m.
YES248, 10 September 2019.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi Pare; eps.02 : "Gambir, Monas, dan Golden Hour."

Selamat datang di Soetta! Btw, tadi ibu-ibu regale minta foto samaku dan minta nomorku. HAHAHA BERASA ORANG PENTING. "Siapa tau nanti kalo ke medan bisa ketemu." Dan... aku juga pas keluar menuju belalai gajah, minta foto balik ke ibunya, sebagai barang bukti kalo udah sampe di soetta ke grup cemara (isinya keluarga inti doang).          "bersama ibu-ibu biskuit regale asal jambi" "Ini ibu angkat waktu dipesawat, hahaha" komentar ibu itu waktu aku hendak mengirimnya ke grup cemara. Wow, gitu aja hatiku anget coy. Selepas itu, aku jalan dan pisah sama ibu itu. Beliau dijemput anaknya. Aku sebelum dijemput sama Nikmah (kawan coolyah yg ikut ke pare juga), hendak menemui Bang Andre (sepupuku yang kerja disoetta) dulu. Anjir, ternyata kayak gini rasanya pergi sendiri. Seneng. Nyari bagasi sendiri, seneng. Walau masih meraba-raba juga, hahaha. Lepas dari ambil bagasi, aku ketemu Bang Andre di depan pintu penjemputan. Ngobrol-ngobrol sama Ban...

Eps. 08 : ada apa dengan sementara milik float?

Sebelumnya, aku mau nanya nih, uda pada tau belom Float itu apa? Bukan float kfc apalagi float mekdi ya, bukan. Udah tau? atau belom? Kalo uda tau mantap, kalo belom tau sini biar tak kasih tau. "Float  merupakan sebuah  grup musik   Indonesia  yang didirikan pada tahun  2004 . Grup musik ini beranggotakan 3 orang yaitu Hotma "Meng" Roni Simamora, Windra "Bontel" Benyamin, dan Raymond "Remon" Agus Saputra." (sc:wikipedia) Etapi, berdasarkan yang udah aku baca juga, Float udah beberapa kali gonta-ganti personel. Jadi, foto dan penjelasan singkat tentang apa itu Float juga terkesan gak sinkron. Maapkan. Singkat cerita, berkenaan dengan Float yang diatas, mereka punya lagu nih, judulnya sementara. Beberapa minggu belakangan, aku rajin dengerin ini lagu. Sebenernya, udah tau dari lama lagu ini. Tapi, entah ada angin apa tiba-tiba lagu ini keputer lagi di playlist spotifyku. Awal kali denger, ada beberapa nada yang aku k...

Eps. 01 : kontemplasi

KONTEMPLASI kon.tem.pla.si  /kontèmplasi/ n  renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh malam tadi, aku berbenah isi lemari. sumpek. sampah disana-sini. tapi aku senang. mengapa? mungkin kamu belum pernah dengar kalimat yang bunyinya begini,  "kenangan memang kurang ajar adanya, datang kembali saat belum sempurna menata hati." jelas saja kamu asing dengan kalimat itu, sebab baru saja diolah oleh pikiranku yang belum seberapa ini, hehe.  iya, gak lucu. singkat cerita, tak sengaja kutemukan buku harian ayah dilemari tas-ku. kuputar ingatan jauh-jauh. (2009-2010an) tertujulah pada suatu momentum dimana aku yang kala itu masih duduk di usia sekolah dasar, gabut, dan sedang liburan, iseng-iseng membongkar lemari ayah ibuku (maafkan anak kalian yang kepalang gabut dan kurang ajar ini). entah mengapa semesta mempertemukanku dengan buku biru manis itu. kenapa kubilang manis? karena ukur...