Langsung ke konten utama

Eps. 09 : Komit, Men!


Komit, Men!

Apa yang terlintas pertama kali dibenakmu kalau denger kata komitmen?
Pacaran, pernikahan, atau... wawancara kepanitiaan?
wkwk.

Bagi yang sering ikut kepanitiaan atau minimal sekedar daftar kepanitiaan (walau ditolak) pasti gak asing dengan kata komitmen.

Kira-kira liriknya begini,
“Kalau seandainya kamu masuk kepanitiaan ini, seberapa besar kamu akan berkontribusi disini?”

“Semisal kita ada rapat nantinya dan kamu ada jadwal lain, apakah kamu mau berkorban demi rapat kepanitiaan ini?”


atau,
“Dari 1-10, di skala berapa sih kamu berkomitmen terhadap kepanitiaan ini?”

dan dengan lantang serta tidak berdosanya si interviewee, karena takut ditolak, ia berkata,


“KOK CUMA SAMPE 10 SIH BANG? ABANG GATAU SEBERAPA BESAR KOMITMEN SAYA DEMI KEPANITIAAN INI? ABANG RAGU SAMA SAYA? ABANG MEMPERTANYAKAN CINTA SAYA?

Enggak. Enggak.

Coba kita maknai lagi, hakikat komitmen yang sesungguhnya.
Karena seringkali, kita berlomba-lomba untuk membangun komitmen dengan orang lain, dengan lembaga lain, tapi lupa kalau semuanya berawal dari berkomitmen dengan diri sendiri.

Berkomitmen dengan diri sendiri itu gausah langsung muluk-muluk dulu deh.
Belajar dari hal-hal kecil, diawali dari skala kecil.


Kalau komitmen skala kecil, bisa dibuat dengan janjian sama diri sendiri, kayak,
“Halo aku, ntar sore kita olahraga ya, berat kamu kan udah 40 kg, mau segemuk apalagi kamu kalau gak olahraga?”


Gitu.

Kalau berkomitmen dengan skala sedang, agak lebih serius, bisa gini bunyinya,
“Sayang, besok UAS, kamu harus belajar sungguh-sungguh ya, biar kamu gak perlu pura-pura sibuk ambil minum ke dapur lagi kalo ditanyain orang tua IP semester ini berapa.” *ngomong sama cermin*

Tapi, sayangnya, kita seringkali dituntut untuk berkomitmen dengan skala besar langsung oleh keadaan.
Bayi baru lahir, gatau apa-apa, bahkan gabisa ngapa-ngapain selain merem-nangis-turu,
udah dicap sebagai “agent of change”.
Belom lagi bisa minum susu pake gelas, udah disuruh berkomitmen sama negara.
Bayangin.

Nyatanya, kita memang hidup dan terlahir di zaman yang harus serba-bisa.
Kalau kamu gak bisa, kamu ketinggalan, dan jangan kaget kalau kamu tergantikan,
bahkan gak punya kesempatan.

Ya, beginilah kehidupan.

Pada akhir tulisan, aku ingin menyetujui sebuah kalimat,
lebih tepatnya salah satu judul buku dari mas Puthut Ea,
yang belakangan ini terngiang-ngiang terus dikepala,

“Hidup Ini Brengsek dan Aku Dipaksa Menikmatinya.”

//Medan. 03 Mei 2020.
//Kamarku, Istanaku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi Pare; eps.02 : "Gambir, Monas, dan Golden Hour."

Selamat datang di Soetta! Btw, tadi ibu-ibu regale minta foto samaku dan minta nomorku. HAHAHA BERASA ORANG PENTING. "Siapa tau nanti kalo ke medan bisa ketemu." Dan... aku juga pas keluar menuju belalai gajah, minta foto balik ke ibunya, sebagai barang bukti kalo udah sampe di soetta ke grup cemara (isinya keluarga inti doang).          "bersama ibu-ibu biskuit regale asal jambi" "Ini ibu angkat waktu dipesawat, hahaha" komentar ibu itu waktu aku hendak mengirimnya ke grup cemara. Wow, gitu aja hatiku anget coy. Selepas itu, aku jalan dan pisah sama ibu itu. Beliau dijemput anaknya. Aku sebelum dijemput sama Nikmah (kawan coolyah yg ikut ke pare juga), hendak menemui Bang Andre (sepupuku yang kerja disoetta) dulu. Anjir, ternyata kayak gini rasanya pergi sendiri. Seneng. Nyari bagasi sendiri, seneng. Walau masih meraba-raba juga, hahaha. Lepas dari ambil bagasi, aku ketemu Bang Andre di depan pintu penjemputan. Ngobrol-ngobrol sama Ban...

Eps. 08 : ada apa dengan sementara milik float?

Sebelumnya, aku mau nanya nih, uda pada tau belom Float itu apa? Bukan float kfc apalagi float mekdi ya, bukan. Udah tau? atau belom? Kalo uda tau mantap, kalo belom tau sini biar tak kasih tau. "Float  merupakan sebuah  grup musik   Indonesia  yang didirikan pada tahun  2004 . Grup musik ini beranggotakan 3 orang yaitu Hotma "Meng" Roni Simamora, Windra "Bontel" Benyamin, dan Raymond "Remon" Agus Saputra." (sc:wikipedia) Etapi, berdasarkan yang udah aku baca juga, Float udah beberapa kali gonta-ganti personel. Jadi, foto dan penjelasan singkat tentang apa itu Float juga terkesan gak sinkron. Maapkan. Singkat cerita, berkenaan dengan Float yang diatas, mereka punya lagu nih, judulnya sementara. Beberapa minggu belakangan, aku rajin dengerin ini lagu. Sebenernya, udah tau dari lama lagu ini. Tapi, entah ada angin apa tiba-tiba lagu ini keputer lagi di playlist spotifyku. Awal kali denger, ada beberapa nada yang aku k...

Eps. 01 : kontemplasi

KONTEMPLASI kon.tem.pla.si  /kontèmplasi/ n  renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh malam tadi, aku berbenah isi lemari. sumpek. sampah disana-sini. tapi aku senang. mengapa? mungkin kamu belum pernah dengar kalimat yang bunyinya begini,  "kenangan memang kurang ajar adanya, datang kembali saat belum sempurna menata hati." jelas saja kamu asing dengan kalimat itu, sebab baru saja diolah oleh pikiranku yang belum seberapa ini, hehe.  iya, gak lucu. singkat cerita, tak sengaja kutemukan buku harian ayah dilemari tas-ku. kuputar ingatan jauh-jauh. (2009-2010an) tertujulah pada suatu momentum dimana aku yang kala itu masih duduk di usia sekolah dasar, gabut, dan sedang liburan, iseng-iseng membongkar lemari ayah ibuku (maafkan anak kalian yang kepalang gabut dan kurang ajar ini). entah mengapa semesta mempertemukanku dengan buku biru manis itu. kenapa kubilang manis? karena ukur...