Komit, Men!
Apa yang terlintas pertama kali dibenakmu kalau denger kata komitmen?
Pacaran, pernikahan, atau... wawancara kepanitiaan?
wkwk.
Pacaran, pernikahan, atau... wawancara kepanitiaan?
wkwk.
Bagi yang sering ikut kepanitiaan atau
minimal sekedar daftar kepanitiaan (walau ditolak) pasti gak asing dengan kata komitmen.
Kira-kira liriknya begini,
“Kalau seandainya kamu masuk kepanitiaan ini, seberapa besar kamu akan berkontribusi disini?”
“Semisal kita ada rapat nantinya dan kamu ada jadwal lain, apakah kamu mau berkorban demi rapat kepanitiaan ini?”
atau,
“Dari 1-10, di skala berapa sih kamu berkomitmen terhadap kepanitiaan ini?”
dan dengan lantang serta tidak berdosanya si interviewee, karena takut ditolak, ia berkata,
“KOK CUMA SAMPE 10 SIH BANG? ABANG GATAU SEBERAPA BESAR KOMITMEN SAYA DEMI KEPANITIAAN INI? ABANG RAGU SAMA SAYA?ABANG
MEMPERTANYAKAN CINTA SAYA?”
“Kalau seandainya kamu masuk kepanitiaan ini, seberapa besar kamu akan berkontribusi disini?”
“Semisal kita ada rapat nantinya dan kamu ada jadwal lain, apakah kamu mau berkorban demi rapat kepanitiaan ini?”
atau,
“Dari 1-10, di skala berapa sih kamu berkomitmen terhadap kepanitiaan ini?”
dan dengan lantang serta tidak berdosanya si interviewee, karena takut ditolak, ia berkata,
“KOK CUMA SAMPE 10 SIH BANG? ABANG GATAU SEBERAPA BESAR KOMITMEN SAYA DEMI KEPANITIAAN INI? ABANG RAGU SAMA SAYA?
Enggak. Enggak.
Coba kita maknai lagi,
hakikat komitmen yang sesungguhnya.
Karena seringkali, kita berlomba-lomba untuk membangun komitmen dengan orang lain, dengan lembaga lain, tapi lupa kalau semuanya berawal dari berkomitmen dengan diri sendiri.
Karena seringkali, kita berlomba-lomba untuk membangun komitmen dengan orang lain, dengan lembaga lain, tapi lupa kalau semuanya berawal dari berkomitmen dengan diri sendiri.
Berkomitmen dengan
diri sendiri itu gausah langsung muluk-muluk dulu deh.
Belajar dari hal-hal kecil, diawali dari skala kecil.
Kalau komitmen skala kecil, bisa dibuat dengan janjian sama diri sendiri, kayak,
“Halo aku, ntar sore kita olahraga ya, berat kamu kan udah 40 kg, mau segemuk apalagi kamu kalau gak olahraga?”
Gitu.
Belajar dari hal-hal kecil, diawali dari skala kecil.
Kalau komitmen skala kecil, bisa dibuat dengan janjian sama diri sendiri, kayak,
“Halo aku, ntar sore kita olahraga ya, berat kamu kan udah 40 kg, mau segemuk apalagi kamu kalau gak olahraga?”
Gitu.
Kalau berkomitmen
dengan skala sedang, agak lebih serius, bisa gini bunyinya,
“Sayang, besok UAS, kamu harus belajar sungguh-sungguh ya, biar kamu gak perlu pura-pura sibuk ambil minum ke dapur lagi kalo ditanyain orang tua IP semester ini berapa.” *ngomong sama cermin*
“Sayang, besok UAS, kamu harus belajar sungguh-sungguh ya, biar kamu gak perlu pura-pura sibuk ambil minum ke dapur lagi kalo ditanyain orang tua IP semester ini berapa.” *ngomong sama cermin*
Tapi, sayangnya, kita
seringkali dituntut untuk berkomitmen dengan skala besar langsung oleh keadaan.
Bayi baru lahir, gatau apa-apa, bahkan gabisa ngapa-ngapain selain merem-nangis-turu,
udah dicap sebagai “agent of change”.
Belom lagi bisa minum susu pake gelas, udah disuruh berkomitmen sama negara.
Bayangin.
Bayi baru lahir, gatau apa-apa, bahkan gabisa ngapa-ngapain selain merem-nangis-turu,
udah dicap sebagai “agent of change”.
Belom lagi bisa minum susu pake gelas, udah disuruh berkomitmen sama negara.
Bayangin.
Nyatanya, kita memang hidup dan terlahir di
zaman yang harus serba-bisa.
Kalau kamu gak bisa, kamu ketinggalan, dan jangan kaget kalau kamu tergantikan,
bahkan gak punya kesempatan.
Kalau kamu gak bisa, kamu ketinggalan, dan jangan kaget kalau kamu tergantikan,
bahkan gak punya kesempatan.
Ya, beginilah
kehidupan.
Pada akhir tulisan, aku ingin menyetujui sebuah kalimat,
lebih tepatnya salah satu judul buku dari mas Puthut Ea,
yang belakangan ini terngiang-ngiang terus dikepala,
“Hidup Ini Brengsek dan Aku Dipaksa Menikmatinya.”
//Medan. 03 Mei 2020.
//Kamarku, Istanaku.
//Kamarku, Istanaku.

Bagus banget kakkk
BalasHapusAsoy bet
BalasHapusEndes sodara!
BalasHapus